Rabu, 20 Maret 2024

Sigra Milir (Megatruh)

SIGRA MILIR

(Megatruh)

 

sigra milir kang gèthèk sinangga bajul

kawan dasa kang njagèni

ing ngarsa miwah ing pungkur

tanapi ing kanan kéring

kang gèthèk lampahnya alon

 

(Babad Tanah Jawi, Ki Yasadipura)

 

Saya terjemahkan:

 

Segera ke hilir, rakit itu ditopang buaya

empat puluh yang menjaganya

di depan dan juga di belakang

demikian pula di kanan dan di kiri

rakit itu jalannya pelan

 

Ini kisah perjalanan Mas Karebet (Joko Tingkir), dari Tingkir ke Demak, dengan menyusuri Kali Serang menggunakan rakit. Joko Tingkir adalah putera Ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenongo), seorang bangsawan Majapahit yang bermukim di Pengging (Boyolali). Ia tewas terbunuh oleh “intel” dari Demak Bintoro. Joko Tingkir kemudian bersembunyi di Desa Tingkir (dekat Salatiga), sebelum kemudian mengabdi ke Demak, menjadi prajurit, panglima, diambil menantu Sultan. Akhirnya ia menjadi Sultan Hadiwijaya, setelah memindahkan ibukota kerajaan dari Demak ke Pajang (Kartasura).

Sigra Milir adalah fragmen perjalanan Jaka Tingkir dari Tingkir ke Demak menggunakan rakit. Namun ada pula yang menafsirkan Sigra Milir sebagai perlambang hubungan seks. Sang getek sinangga bajul diartikan tubuh laki-laki disangga oleh tubuh perempuan. Empat puluh yang menjaga adalah empat puluh jari tangan dan jari kaki, dua orang. Sang getek lampahnya alon diartikan sebagai gerakan hubungan seksual.

 

https://www.facebook.com/119320814760699/photos/a.152654098094037/152654231427357/?type=3&locale=id_ID

 


Sisi Lain Tembang Sigra Milir

“Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon”.

Demikianlah bunyi tembang macapat bermetrum Megatruh yang berkisah tentang Jaka Tingkir naik rakit di sebuah sungai. Ada yang menyebut sungai itu sebagai Kedung Srengege. Ada pula yang menyebutnya Bengawan Solo. Ia dikawal 40 buaya putih, di depan, di belakang, di samping kanan dan samping kiri. Rakitnya pun bergerak perlahan-lahan.

Tembang itu bagi kanak-kanak Jawa tempo doeloe akrab di telinga. Ia dianggap sebagai puisi lisan Jawa karena sering didendangkan. Tembang itu bernama Sigra Milir.

Sigra Milir disebut sebagai puisi lisan itu wajar, karena tembang itu lebih dikenal versi lisannya, baik dalam tradisi mocopatan, seni ketoprak, bersenandung, dan lainnya. Meski demikian, asal-muasalnya dari versi tulis. Versi tulisnya tersebar pada beberapa babad. Salah satunya adalah Babad Mentaram, yang ditemukan almarhum Suripan Sadi Hutomo (1998) di Mojokerto dalam metrum macapat dan digurat dengan abjad Arab Pegon. Dimungkinkan naskah babonnya ditulis dalam aksara Jawa. Babad lainnya adalah Babad Demak, yang di dalamnya juga ada kisah Jaka Tingkir.

Menurut Hutomo (1998), pada saat ia kecil, banyak anak-anak desa di Jawa yang hapal tembang itu, terutama bagi anak-anak gembala. Ternyata itu tidak hanya berlaku di Jawa Tengah, tepatnya Blora, asal Hutomo. Di Jawa Timur, banyak anak-anak yang juga menembangkannya.

Di Lamongan, realitas kulturalnya agak berbeda. Di kawasan pedalaman, terutama Lamongan selatan, dulu tembang itu pun kondang. Banyak kanak-kanak yang mendendangkannya. Pasalnya, Jaka Tingkir adalah hero lokal dan idola masyarakat. Ia sakti mandraguna, ahli politik, dan berujung sebagai raja Jawa pasca-Kerajaan Demak.

Namun, di kawasan Lamongan yang menjadi lintasan Bengawan Solo –dengan beberapa anak sungainya, salah satu di antaranya bernama Bengawan Jero, yang menjadi urat nadi kehidupan mereka, menembangkan Sigra Milir adalah pantangan. Hal itu berlaku sejak dulu. Diyakini, tembang itu merupakan alat komunikasi super canggih pada sekawanan buaya di kawasan perairan Bengawan Solo.

“Bila sedang menyeberang Bengawan Solo, memang dipantangkan nembang Sigra Milir,. Diyakini tembang itu adalah sarana pengundang buaya putih, yang berdiam di Bengawan,” tutur Drs Achmad Hambali, budayawan Lamongan. “Sejak dulu ada keyakinan begitu. Pernah ada yang lupa dengan itu, pada tahun 1990an, dan berakhir kurang baik” lanjutnya. (MA)

 

Minggu, 17 Maret 2024

Serat Kalatidha (ꦱꦺꦫꦠ꧀ꦏꦭꦠꦶꦝ) 3



Bait Serat Kalatidha yang paling dikenal adalah bait ke-7. Sebab bait ini adalah esensi utama syair ini. Amanat syair ini bisa diringkas dalam satu bait ini.

Teks asli (aksara Jawa)TranskripsiAlih bahasa
ꦲꦩꦼꦤꦁꦔꦶꦗꦩꦤ꧀ꦲꦺꦢꦤ꧀ ꦲꦺꦮꦸꦃꦲꦪꦲꦶꦁꦥꦩ꧀ꦧꦸꦢꦶ꧈ ꦩꦺꦭꦸꦲꦺꦢꦤ꧀ꦤꦺꦴꦫꦠꦲꦤ꧀ ꦪꦺꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦶꦭꦸꦲꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦺꦴꦪꦏꦢꦸꦩꦤ꧀ꦩꦺꦭꦶꦏ꧀ ꦏꦭꦶꦂꦉꦤ꧀ꦮꦼꦏꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦢꦶꦭꦭꦃꦏꦂꦱꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ ꦧꦼꦒ꧀ꦗꦧꦼꦒ꧀ꦗꦤꦺꦏꦁꦭꦭꦶ꧈ ꦭꦸꦮꦶꦃꦧꦼꦒ꧀ꦗꦏꦁꦲꦺꦭꦶꦁꦭꦮꦤ꧀ꦮꦱ꧀ꦥꦢ꧉Amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu édan nora tahan, yén tan milu anglakoni, boya kaduman mélik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lawan waspada.Berada pada zaman gila, serba salah dalam bertindak. Ikut-ikutan gila tidak akan tahan, tetapi kalau tidak mengikuti arus, tidak kebagian, (lalu) jatuh miskin pada akhirnya. Tetapi Allah Mahaadil. Sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

https://id.wikipedia.org/wiki/Serat_Kalatidha


Sabtu, 16 Maret 2024

Serat Kalatidha (ꦱꦺꦫꦠ꧀ꦏꦭꦠꦶꦝ) 2

 

Serat Kalatidha


Serat Kalatidha
PengarangRanggawarsita
NegaraHindia Belanda
BahasaJawa
Genre
TeksSerat Kalatidha di Wikisource

Serat Kalatidha (Jawa꧋ꦱꦼꦫꦠ꧀ ꦏꦭꦠꦶꦣ꧈) adalah sebuah karya sastra dalam bahasa Jawa karangan Raden Ngabehi Rangga Warsita berbentuk tembang macapat. Karya sastra ini ditulis kurang lebih pada tahun 1860 Masehi. Kalatidha adalah salah satu karya sastra Jawa yang ternama. Bahkan sampai sekarang banyak orang Jawa terutama kalangan tua yang masih hafal paling tidak satu bait syair ini.

Latar belakang

Kalatidha bukanlah karya Rangga Warsita yang terpanjang. Syair ini hanya terdiri dari 12 bait dalam metrum Sinom dan seluruhnya ditulis menggunakan aksara Jawa (Hanacaraka) gagrak Surakarta. Kala tidha secara harafiah artinya adalah "zaman gila" atau jaman édan seperti ditulis oleh Rangga Warsita sendiri. Konon Rangga Warsita menulis syair ini ketika pangkatnya tidak dinaikkan seperti diharapkan. Lalu ia menggeneralisasi keadaan ini dan ia anggap secara umum bahwa zaman di mana ia hidup merupakan zaman gila di mana terjadi krisis. Saat itu Rangga Warsita merupakan pujangga kerajaan di Keraton Kasunanan Surakarta. Ia adalah pujangga panutup atau "pujangga terakhir". Sebab setelah itu tidak ada "pujangga kerajaan" lagi.

Arti singkat

Syair Kalatidha bisa dibagi menjadi tiga bagian: bagian pertama adalah bait 1 sampai 6, bagian kedua adalah bait 7 dan bagian ketiga adalah bait 8 sampai 12. Bagian pertama adalah tentang keadaan masa Rangga Warsita yang menurut ialah tanpa prinsip. Bagian kedua isinya adalah ketekadan dan sebuah introspeksi diri. Sedangkan bagian ketiga isinya adalah sikap seseorang yang taat dengan agama di dalam masyarakat.

Petikan

Bait Serat Kalatidha yang paling dikenal adalah bait ke-7. Sebab bait ini adalah esensi utama syair ini. Amanat syair ini bisa diringkas dalam satu bait ini.

Teks asli (aksara Jawa)TranskripsiAlih bahasa
ꦲꦩꦼꦤꦁꦔꦶꦗꦩꦤ꧀ꦲꦺꦢꦤ꧀ ꦲꦺꦮꦸꦃꦲꦪꦲꦶꦁꦥꦩ꧀ꦧꦸꦢꦶ꧈ ꦩꦺꦭꦸꦲꦺꦢꦤ꧀ꦤꦺꦴꦫꦠꦲꦤ꧀ ꦪꦺꦤ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦶꦭꦸꦲꦔ꧀ꦭꦏꦺꦴꦤ꧀ꦤꦶ꧈ ꦧꦺꦴꦪꦏꦢꦸꦩꦤ꧀ꦩꦺꦭꦶꦏ꧀ ꦏꦭꦶꦂꦉꦤ꧀ꦮꦼꦏꦱ꧀ꦱꦤ꧀ꦤꦶꦥꦸꦤ꧀ ꦢꦶꦭꦭꦃꦏꦂꦱꦄꦭ꧀ꦭꦃ꧈ ꦧꦼꦒ꧀ꦗꦧꦼꦒ꧀ꦗꦤꦺꦏꦁꦭꦭꦶ꧈ ꦭꦸꦮꦶꦃꦧꦼꦒ꧀ꦗꦏꦁꦲꦺꦭꦶꦁꦭꦮꦤ꧀ꦮꦱ꧀ꦥꦢ꧉Amenangi zaman édan, éwuhaya ing pambudi, mélu édan nora tahan, yén tan milu anglakoni, boya kaduman mélik, kaliren wekasanipun, dilalah kersa Allah, begja-begjane kang lali, luwih begja kang éling lawan waspada.Berada pada zaman gila, serba salah dalam bertindak. Ikut-ikutan gila tidak akan tahan, tetapi kalau tidak mengikuti arus, tidak kebagian, (lalu) jatuh miskin pada akhirnya. Tetapi Allah Mahaadil. Sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Serat Kalatidha di Leiden

Serat Kalatidha menjadi salah satu puisi di proyek puisi dinding di LeidenBelanda.




Serat Kalatidha (ꦱꦺꦫꦠ꧀ꦏꦭꦠꦶꦝ) 1

 

Kalatidha, Padmasusastra, 1931, #25

Sinom

1

m=k-frjtTi=p]j,

kwu/ynÖsSuvruri, 

rurhp=[z]hai=aukr, 

krntnPplupi,

[pon=pr[m=kwi,

kwi2tTi=t-sMltÑ|=,

[kozsKsuf]nir,

tidemTnDni=fumfi, 

a/f[y=r[tFni=k[robnR|[bf.

1


mangkya darajating praja |

kawuryan wus sunyaruri |

rurah pangrèhing ukara |

karana tanpa palupi |

ponang paramèng kawi |

kawilêting tyas malatkung |

kongas kasudranira |

tidhêm tandhaning dumadi |

ardayèng rat dening karoban rubeda ||

2


rtu[nrtuautm, 

ptih[aptihlinuwih,

p]nykt-sRa/j, 

pnek/[rbecikBecik\

pr[nF[ntnFfi,

pliysSi=klbenF|, 

mlhs=kinHnFf],

ru[bfk=z]iribefFi, 

[bf[bfa/f[n[w=osngr.

2


ratune ratu utama |

patihe patih linuwih |

pra nayaka tyas raharja |

panêkare bêcik-bêcik |

parandene tan dadi |

paliyasing kalabêndu |

malah sangkin andadra |

rubeda kang ngrêribêdi |

beda-beda ardane wong sanagara ||

3


kttzitzisSir,

sirs=pr[m=kwi,

kwi2tTi=t-sF|hkit, 

ktmnHi=[rhwirzi, 

[fni=aupysnFi,

sumrunanrwu=,

pzimu/mnuar, 

[mtPm]ih[mlikP[kolih, 

temhsuhaai=k/stnPwi[wk.

3


katêtangi tangisira |

sira sang paramèng kawi |

kawilêt ing tyas duhkita |

kataman ing rèh wirangi |

dening upaya sandi |

sumaruna anarawung |

pangimur manuhara |

mèt pamrih melik pakolih |

têmah suha ing karsa tanpa wiweka ||

4


ds/k[robnPw/t, 

bbrtTnHuj/lmis\

pinuf-ff-pz/s,

weksSnMlhkwuri, 

[ynPiniki/syekTi, 

munDkHpa[n=zyun\ 

anDede/kluputTn\

sinirmMnBvulli, 

lmunÒ|wuhffikekem=Bzi=[bk.

4


dhasar karoban pawarta |

bêbaratan ujar lamis |

pinudya dadya pangarsa |

wêkasan malah kawuri |

yèn pinikir sayêkti |

mundhak apa anèng ngayun |

andhêdhêr kaluputan |

siniraman banyu lali |

lamun tuwuh dadi kêkêmbanging beka ||

5


auj/ri=pnitissÒ`,

awwrhasu=[pli=, 

ai=jmnKe[n=musibt\ 

[w=oamBekJtMik[konTit\ 

m_[ko[no[ynNi[tniN, 

[pfhapamituau, 

pw/tll[wor, 

munDkH[z]o[ronTati, 

azu/byziketTcri[t=kun.

5


ujaring panitisastra |

awêwarah asung peling |

ing jaman kênèng musibat |

wong ambêk jatmika kontit |

mêngkono yèn nitèni |

pedah apa amituhu |

pawarta lalawora |

mundhak angrêrănta ati |

angur baya ngikêta caritèng kuna ||

6


kenikin/yf/sn,

p=zLimB=allnBecik\ 

syekTia[kh[kwl, 

ll[konK=ffitmSil\ 

mslhai=zaurip\

wannirtinemu,

temhanHnrim,

mupusPepe[sQni=tkFi/, 

puluhpuluhazL[konNik[a[lokKn\,

6


kêni kinarya darsana |

panglimbang ala lan bêcik |

sayêkti akèh kewala |

lêlakon kang dadi tamsil |

masalah ing ngaurip |

wahananira tinêmu |

têmahan anarima |

mupus pêpêsthèning takdir |

puluh-puluh anglakoni kaelokan ||


7

amen=zijm[nHfn\ 

[awuhayai=pmB|fi, 

[mlu[af[nNortan\ 

[ynTnMiluazL[koniN, 

[boykfum[nMlik\ 

kli/xnWeksSnNipun\ 

fillhk/sAlLh, 

begJbegJ[nk=lli, 

luwihbegJk=[ali=lwnWsPf.

7



amênangi jaman edan |

ewuh-aya ing pambudi |

mèlu edan ora tahan |

yèn tan milu anglakoni |

boya kaduman melik |

kalirên wêkasanipun |

dilalah karsa Allah |

bêgja-bêgjane kang lali |

luwih bêgja kang eling lawan waspada ||


8

s[mo[noaikubebsn\ 

pfupfu[nk[pzin\ 

a_gihme[kotenM[nDobL=, 

bene/ai=k=azrnNi,

nzi=s[j]oni=btin\

sjti[nvmut-mut\

wisÒ|waxpHp,

muau=masHi=asepi, 

supynÒ|kPzkSmni=a=-$ukSM.

8


samono iku bêbasan |

padu-padune kapengin |

ênggih mêkotên man dhoblang |

bênêr ingkang angarani |

nanging sajroning batin |

sajatine nyamut-nyamut |

wis tuwa arêp apa |

muhung mahas ing asêpi |

supayantuk pangaksamaning Hyang Suksma ||


9

[bflnK=wusS[nTos,

kinrilnHi=a=-widi, 

stibml=z[ny, 

tnSushzupyk+sil\

ski=mzunhp]pTi,

%[zrnPri=pitulu=,

m/gsmni=tith,

rupsbr=p[kolih, 

pr[nF[nmkSihtberiaihtiy/.


9

beda lan kang wus santosa |

kinarilan ing Hyang Widhi |

satiba malanganea |

tan susah ngupaya khasil |

saking mangunah prapti |

Pangeran paring pitulung |

marga samaning titah |

rupa sabarang pakolih |

parandene maksih tabêri ihtiyar ||


10

skf/[rlin[konNn\ 

mu=tuminFkMrati,

a=ge/tnFfip]kr,

krnwirytM|ni,

aihtiy/aikuyekTi, 

pmilihai=[rhrayu,

sinmBibufify,

knQiawsLw[nHli=, 

k=k[asQianÒ|kKm/mni=$ukSM.


10

sakadare linakonan |

mung tumindak mara ati |

anggêr tan dadi prakara |

karana wirayat muni |

ihtiyar iku yêkti |

pamilihing rèh rahayu |

sinambi budidaya |

kanthi awas lawan eling |

kang kaèsthi antuka marmaning Suksma ||


11

yAlLhyrsululLh, 

k=siptM|rhlnHsih, 

mugimugiapr=iz, 

pitulu=ai=k=n/tni, 

ai=almHwlHki/, 

fumunu=zi=ges=aulun\

m=k-smPunHw}d,

ai=weksSnKfipunFi, 

milmugi[wonTenNpitulu=#uwn\,


11

ya Allah ya Rasulullah |

kang sipat murah lan asih |

mugi-mugi aparinga |

pitulung ingkang nartani |

ing alam awal akir |

dumununging gêsang ulun |

mangkya sampun awrêdha |

ing wêkasan kadipundi |

mila mugi wontêna pitulung Tuwan ||


12

sgefFsb/s[nTos, 

mtis[j]oni=zaurip\ 

klisSi=[rharuar, 

mu/ka=krsumi=ki/, 

t/[lnMeX=mltSih,

snit-[sS=t-sMmtuh,

bd/ri=spudenD,

anÒ|kMy/swtwis\ 

[bo[r=oa=gsw/g[msim/ty.


12

sagêda sabar santosa |

mati sajroning ngaurip |

kalis ing rèh aru-ara |

murka angkara sumingkir |

tarlèn mêlêng malatsih |

sanityasèng tyas mêmatuh |

badharing sapudhêndha |

antuk mayar sawatawis |

borong angga sawarga mèsi martaya ||


https://www.sastra.org/bahasa-dan-budaya/bacaan-huruf-jawa/1308-kalatidha-padmasusastra-1931-25

 

 

Jumat, 15 Maret 2024

Serat Wedhatama (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦼꦝꦠꦩ) 6

 Suwung_Pola_Penyelesaian_Masalah_Kaum_S.pdf

 

https://drive.google.com/file/d/1GKhlCXoIWdLyRVv5L9LaMBPp4CW8aumU/view?usp=sharing

 

 

“Suwung” merupakan istilah Jawa yang menggambarkan kondisi kosong,

tidak mempunyai bentuk dan abstrak. Di dalamnya mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan. Suwung bagi kaum sufi merupakan sebuah pengalaman spiritual yang disebut peak experience. Peak experience menurut Maslow dijabarkan sebagai suatu kondisi saat seseorang secara mental merasa keluar dari dirinya sendiri (Davis, 2003). Melalui pemahaman Suwung ini, manusia dengan sadar dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan secara lebih bijaksana. Subjek penelitian ini dibagi menjadi 3 kategori yaitu:

(1) kelompok penganut paham sufi yang masih belum terpenuhinya kebutuhan dasar hidup,

(2) kelompok penganut paham sufi yang memenuhi kebutuhan dasar hidup dengan perjuangan,

(3) kelompok penganut paham sufi yang memenuhi kebutuhan dasar hidup dengan mudah.

Metode yang dilakukan adalah snowball sampling. Sedangkan validitas dilakukan dengan metode triangulasi significant other. Metode penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi dengan proses analisis data menggunakan interaksionis simbolik.

Dalam prosesnya, peneliti melakukan wawancara mendalam sampai menemukan data jenuh. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dari ketiga kelompok subjek mampu menerima suatu masalah dengan cara mengosongkan diri dan secara hakiki menerima Tuhan dalam kondisi apa pun. Keadaan Narimo dan syukur menjadi dasar penyelesaian masalah bagi seluruh subjek. Selain persamaan itu, ada tiga perbedaan pola berpikir dari kelompok subjek penelitian dalam memecahkan suatu masalah.

Pertama, manusia memecahkan masalah yang dihadapi dengan kepasrahan.

Kedua, menyelesaikan masalah dengan cara berkompromi dengan fakta.

Ketiga, menyelesaikan masalah melalui pencarian makna akan hidup.

 

https://www.academia.edu/78104260/_Suwung_Pola_Penyelesaian_Masalah_Kaum_Sufi_Suku_Jawa_DI_Kota_Malang



Serat Wedhatama (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦼꦝꦠꦩ) 5

 

Suwung

Suwung dianggap sebagai kenyataan mutlak, asal dari segala sesuatu di alam semesta.

Suwung (aksara Jawa: ꦱꦸꦮꦸꦁ) adalah konsep dalam masyarakat Jawa untuk menggambarkan rasa hampa akan kesadaran diri dengan lingkungannya. Hampa di sini dapat diartikan sebagai kondisi kosong yang arupa alias tidak memiliki bentuk.[1] Konsep suwung dipandang sebagai asal-muasal dari alam semesta, hakikat dari segala sesuatu.[2] Suwung adalah kenyataan mutlak yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusiawi.[3]

Sementara itu, kelompok beraliran sufisme mengartikan suwung dengan berbeda. Suwung bagi mereka mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan. Dalam ajaran Suluk Suksma Lelana, suwung adalah tahapan tertinggi, yaitu makrifat. Dalam tahapan ini, seseorang telah berhasil mencapai hakikat ketuhanannya.[1]

Naskah

Serat Wedhatama membagi alam semesta dibagi menjadi dua, yakni alam yang selalu berubah/fana dan alam yang tetap/abadi. Konsep ini diterangkan antara lain termuat dalam pupuh pangkur bait ke-14 yang berbunyi:[1]

Sejatine Kang mangkana Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming nga-SUWUNG, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami.

Artinya:

Sebenarnya yang demikian itu sudah mendapat anugerah Tuhan. Kembali ke alam kosong, tidak mabuk keduniawian yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal mula. Demikianlah yang terjadi wahai anak muda.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. Lompat ke:a b c ""SUWUNG" : KONSEP PROBLEM SOLVING KAUM SUFI SUKU JAWA DI KOTA MALANG – Fakultas Pendidikan Psikologi – Universitas Negeri Malang" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-21. Diakses tanggal 2019-08-21.
  2. ^ Chodjim, Achmad (2005). Membangun surga. Penerbit Serambi. ISBN 9789791600927.
  3. ^ Chodjim, Achmad (2008-03-01). Al-ikhlash. Serambi Ilmu Semesta. ISBN 9789790240001.

https://id.wikipedia.org/wiki/Suwung

 



SULUK SUKMA LELANA

Dening : R. Ng. Ranggawarsita

Punapa yen wus kakekat,
estu lajeng sarengatnya kawuri,
yen saking pamanggih ulun,
tan wonten kang tinilar,
jer muktamat ing hadis ugi kasebut,
kak tanpa sarengat batal,
sarak tanpa kak tan dadi.

Paran Gusti yen kapisah,
temah mangke kakalihira sisip,
kang lempeng taksih ing kawruh,
sakawanira tunggal,
ngelmuning Hyang sarengat myang tarekatu,
kakekat miwah makripat,
punika kamil apdoli.

Terjemahan: Suluk Suksma Lelana


Apakah jika seseorang sudah sampai ke tingkatan hakikat, dia boleh meninggalkan syariat?

Menurut pendapatku dan pendapat Hadis tak boleh ada ajaran syariat yang diabaikan, karena kebenaran atau haq tanpa syariat tak jadi dan syariat tanpa haq batal juga.

Perjalalanan menuju Tuhan tak boleh hanya dengan pendekatan secara partial, mereka harus melakukan empat hal itu sebagai satu kesatuan, yaitu :

syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat,

inilah suatu hal yang sempurna.

 

https://alangalangkumitir.wordpress.com/2008/10/27/suluk-sukma-lelana/

 




Percobaan