SIGRA MILIR
(Megatruh)
sigra milir kang gèthèk sinangga bajul
kawan dasa kang njagèni
ing ngarsa miwah ing pungkur
tanapi ing kanan kéring
kang gèthèk lampahnya alon
(Babad Tanah Jawi, Ki Yasadipura)
Saya terjemahkan:
Segera ke hilir, rakit itu ditopang
buaya
empat puluh yang menjaganya
di depan dan juga di belakang
demikian pula di kanan dan di kiri
rakit itu jalannya pelan
Ini kisah perjalanan Mas Karebet (Joko
Tingkir), dari Tingkir ke Demak, dengan menyusuri Kali Serang menggunakan
rakit. Joko Tingkir adalah putera Ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenongo), seorang
bangsawan Majapahit yang bermukim di Pengging (Boyolali). Ia tewas terbunuh
oleh “intel” dari Demak Bintoro. Joko Tingkir kemudian bersembunyi di Desa
Tingkir (dekat Salatiga), sebelum kemudian mengabdi ke Demak, menjadi prajurit,
panglima, diambil menantu Sultan. Akhirnya ia menjadi Sultan Hadiwijaya,
setelah memindahkan ibukota kerajaan dari Demak ke Pajang (Kartasura).
Sigra Milir adalah fragmen perjalanan Jaka
Tingkir dari Tingkir ke Demak menggunakan rakit. Namun ada pula yang
menafsirkan Sigra Milir sebagai perlambang hubungan seks. Sang getek sinangga
bajul diartikan tubuh laki-laki disangga oleh tubuh perempuan. Empat puluh yang
menjaga adalah empat puluh jari tangan dan jari kaki, dua orang. Sang getek
lampahnya alon diartikan sebagai gerakan hubungan seksual.
Sisi Lain Tembang Sigra Milir
“Sigra milir sang gethek sinangga bajul, kawan dasa kang njageni, ing ngarsa miwah ing pungkur, tanapi ing kanan kering, kang gethek lampahnya alon”.
Demikianlah bunyi tembang macapat bermetrum Megatruh yang berkisah tentang Jaka Tingkir naik rakit di sebuah sungai. Ada yang menyebut sungai itu sebagai Kedung Srengege. Ada pula yang menyebutnya Bengawan Solo. Ia dikawal 40 buaya putih, di depan, di belakang, di samping kanan dan samping kiri. Rakitnya pun bergerak perlahan-lahan.
Tembang itu bagi kanak-kanak Jawa tempo doeloe akrab di telinga. Ia dianggap sebagai puisi lisan Jawa karena sering didendangkan. Tembang itu bernama Sigra Milir.
Sigra Milir disebut sebagai puisi lisan itu wajar, karena tembang itu lebih dikenal versi lisannya, baik dalam tradisi mocopatan, seni ketoprak, bersenandung, dan lainnya. Meski demikian, asal-muasalnya dari versi tulis. Versi tulisnya tersebar pada beberapa babad. Salah satunya adalah Babad Mentaram, yang ditemukan almarhum Suripan Sadi Hutomo (1998) di Mojokerto dalam metrum macapat dan digurat dengan abjad Arab Pegon. Dimungkinkan naskah babonnya ditulis dalam aksara Jawa. Babad lainnya adalah Babad Demak, yang di dalamnya juga ada kisah Jaka Tingkir.
Menurut Hutomo (1998), pada saat ia kecil, banyak anak-anak desa di Jawa yang hapal tembang itu, terutama bagi anak-anak gembala. Ternyata itu tidak hanya berlaku di Jawa Tengah, tepatnya Blora, asal Hutomo. Di Jawa Timur, banyak anak-anak yang juga menembangkannya.
Di Lamongan, realitas kulturalnya agak berbeda. Di kawasan pedalaman, terutama Lamongan selatan, dulu tembang itu pun kondang. Banyak kanak-kanak yang mendendangkannya. Pasalnya, Jaka Tingkir adalah hero lokal dan idola masyarakat. Ia sakti mandraguna, ahli politik, dan berujung sebagai raja Jawa pasca-Kerajaan Demak.
Namun, di kawasan Lamongan yang menjadi lintasan Bengawan Solo –dengan beberapa anak sungainya, salah satu di antaranya bernama Bengawan Jero, yang menjadi urat nadi kehidupan mereka, menembangkan Sigra Milir adalah pantangan. Hal itu berlaku sejak dulu. Diyakini, tembang itu merupakan alat komunikasi super canggih pada sekawanan buaya di kawasan perairan Bengawan Solo.
“Bila sedang menyeberang Bengawan Solo, memang dipantangkan nembang Sigra Milir,. Diyakini tembang itu adalah sarana pengundang buaya putih, yang berdiam di Bengawan,” tutur Drs Achmad Hambali, budayawan Lamongan. “Sejak dulu ada keyakinan begitu. Pernah ada yang lupa dengan itu, pada tahun 1990an, dan berakhir kurang baik” lanjutnya. (MA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar