Minggu, 29 Juni 2025

10 Sikap Hidup Bahagia



10 Sikap Hidup Bahagia

1. Lepaskanlah Rasa Kuatir & Ketakutan.

Ketakutan & kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi, kebanyakan hal-hal yang Anda kuatirkan & takutkan tak pernah terjadi! It’s all only in mind.


2. Buanglah Dendam.

Dendam & Amarah yg disimpan hanya akan menyedot energi diri Anda & hanya mendatangkan KELELAHAN JIWA, BUANGLAH!!


3. Berhentilah Mengeluh.

Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yang ada saat ini, secara tak sadar Anda membawa-bawa beban negatif.


4. Bila Ada Masalah, Selesaikan Satu Persatu.

Hanya inilah cara menangani setiap persoalan satu demi satu.


5. Tidurlah dengan Nyenyak.

Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk & tak sehat, biasakanlah tidur dengan nyaman.


6. Jauhi Urusan Orang Lain.

Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri untuk menangani setiap masalahnya.


7. Hiduplah Pada Saat ini, Bukan Masa Lalu.

Nikmati masa lalu sebagai kenangan, Jangan tergantung padanya. Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yg Anda miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan besok. “Be totally present”


8. Jadilah Pendengar Yang Baik.

Saat menjadi pendengar, Anda belajar & mendapatkan ide-ide baru berbeda dari org lain.


9. Berpikirlah Positif.

Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif. Bertemanlah dgn orang-orang yg berpikiran positif & terlibatlah dengan kegiatan positif.


10. Bersyukurlah.

Bersyukurlah atas hal-hal kecil yang akan membawa Anda pada hal-hal besar.


✅✅✅✅✅✅✅✅


Senin, 23 Juni 2025

Sirnå Dalané Pati


ꦱꦶꦂꦤꦢꦭꦤ꧀ꦤꦥꦠꦶ꧈ꦤꦸꦂꦱꦶꦥ꦳ꦠ꧀꧈ꦭꦸꦧꦺꦂꦠꦤ꧀ꦥꦏꦼꦧꦼꦏ꧀꧉

Sirnå dalané pati, nur sifat, lubér tanpå kêbêk.

Ungkapan "Sirnå dalané pati, nur sifat, lubér tanpå kêbêk" adalah filosofi Jawa yang mengandung makna mendalam. Secara harfiah, frasa ini berarti: 

Sirnå dalanė pati: 

Hilangkan cara mati yang buruk, yaitu dengan menghilangkan penyakit hati seperti sombong, iri, dan dengki. 

Nur sifat: 

Jadilah orang yang bermanfaat, seperti cahaya yang menyinari. 

Luber tanpå kêbêk: 

Berlimpah tanpa merasa penuh, yaitu tetap sederhana dan rendah hati meskipun memiliki kelebihan dalam hal apapun. 

Jadi, secara keseluruhan, ungkapan ini mengajarkan untuk:

Membersihkan diri dari sifat-sifat buruk: 

Menghilangkan penyakit hati yang bisa menghalangi kebaikan. 

Menjadi orang yang bermanfaat: Menjadi pribadi yang memberikan dampak positif bagi orang lain. 

Menjaga kesederhanaan: 

Tidak sombong atau merasa lebih dari orang lain meskipun memiliki kelebihan.

Ungkapan ini merupakan pedoman hidup dalam budaya Jawa untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian batin.


kêbêk: rob, tara, sêk, sik, sumwuk, warêg, jibêg, manêngkêr, thah, ngadrak; 

[ngêbêki]: kwaki, mênuhi, muntwani, mangêbêg.

kěběk : full; to overflow;

angěběkana: will fulfil, will overflow.

kěběk : penuh; meluap;

angěběkana: akan memenuhi; akan meluap.

kêbak : anjrah, ibêk, cor, rob, kêbêk, saksa, supênuh, sumaksa, wrêsêg, wêki, wimbuh, wêg, lumah, pênuh (= penoeh Ml.), mênuh, giha; 

[kêbakan]: hibêkan; 

[ngêbaki]: sumaksa, sumusung, sumungsung, mêlaba, ngibêki;

[luwih kêbak]: supênuh.


Perbedaan antara ê dan ě terletak pada pelafalan dan penggunaannya dalam bahasa. ê (e pepet atau e lemah) dilafalkan sebagai /ə/ (schwa), seperti pada kata "enam" /'ənəm/, sedangkan ě (e taling terbuka) dilafalkan sebagai /e/, seperti pada kata "lele" /'le.le/. 

Detail Perbedaan: 

ê (e pepet):

Ini adalah bunyi vokal yang netral, sering disebut "e" seperti pada kata "enam" atau "emas". Dalam International Phonetic Alphabet (IPA), ini dilambangkan sebagai /ə/ atau schwa.

ě (e taling):

Ini adalah bunyi vokal yang lebih jelas dan terbuka. Dalam bahasa Indonesia, "e" yang dilafalkan seperti pada kata "lele" atau "es" adalah contoh dari bunyi ini. Dalam IPA, ini dilambangkan sebagai /e/. 

Penggunaan dalam Bahasa: 

ê:

Dalam bahasa Indonesia, "ê" sering digunakan untuk menunjukkan bahwa "e" dibaca sebagai "e" pepet atau lemah, terutama dalam kamus atau tulisan yang ingin menunjukkan pelafalan yang tepat. 

ě:

"ě" tidak umum digunakan dalam bahasa Indonesia standar. Dalam bahasa lain, seperti bahasa Ceko, "ě" memiliki fungsi fonologis yang berbeda dan dapat mengubah arti kata. 

Contoh dalam Bahasa Indonesia: 

'ê': "Pertandingan itu berakhir seri (sêri)". 

'e' biasa (tanpa diakritik) yang dilafalkan seperti /e/: "Teras rumah". 

'ě': Tidak umum digunakan dalam bahasa Indonesia standar, namun bisa ditemukan dalam tulisan yang ingin menunjukkan pelafalan yang tepat. 

Kesimpulan: 

Meskipun kedua huruf tersebut terlihat mirip, perbedaan utama terletak pada pelafalan: "ê" adalah "e" pepet atau lemah (/ə/), sedangkan "ě" adalah "e" taling atau jelas (/e/).


Huruf "a" dan "å" memiliki perbedaan dalam pengucapan dan penggunaannya. "A" adalah huruf vokal dasar dalam banyak bahasa, sedangkan "å" adalah huruf yang digunakan dalam beberapa bahasa Skandinavia (seperti Swedia, Norwegia, dan Denmark) untuk melambangkan bunyi yang berbeda dari "a". 

Berikut adalah perbedaan detailnya:

"A": 

Huruf vokal dasar yang umum ditemukan dalam banyak bahasa.

Dalam bahasa Inggris, "a" dapat melambangkan berbagai bunyi, seperti pada "father", "cat", atau "name".

Dalam bahasa Indonesia, "a" umumnya melambangkan bunyi seperti pada "bapak".

"Å": 

Huruf yang digunakan dalam bahasa Swedia, Norwegia, dan Denmark.

Melambangkan bunyi yang berbeda dengan "a".

Dalam bahasa Swedia dan Norwegia, "å" biasanya dilafalkan seperti "o" dalam "or" atau "aw" dalam "law", yaitu bunyi vokal belakang yang bulat dan panjang.

Dalam bahasa Denmark, "å" juga dilafalkan seperti "o", tetapi ada variasi pengucapan tergantung dialek.

Huruf "å" juga digunakan dalam bahasa Chamorro untuk melambangkan bunyi yang berbeda dengan "a".

Perbedaan Penggunaan: 

"A" adalah huruf dasar dan digunakan secara luas.

"Å" digunakan khusus dalam bahasa-bahasa Skandinavia dan Chamorro untuk menandai bunyi yang spesifik.

Contoh: 

"a" dalam bahasa Indonesia: "buku", "meja".

"å" dalam bahasa Swedia: "år" (tahun), "låta" (membiarkan).

"å" dalam bahasa Chamorro: "Guåhån" (Guam).

Jadi, perbedaan utama terletak pada bunyi yang diwakilinya dan bahasa tempat huruf tersebut digunakan. "A" adalah huruf dasar yang universal, sedangkan "å" adalah huruf khusus yang digunakan dalam bahasa-bahasa tertentu untuk melambangkan bunyi yang berbeda. 




Jumat, 06 Juni 2025

Punden berundak



Punden berundak

struktur purbakala khas Indonesia


Punden berundak atau teras berundak adalah struktur tata ruang bangunan yang berupa teras atau trap berganda yang mengarah pada satu titik dengan tiap teras semakin tinggi posisinya. Struktur ini kerap ditemukan pada situs kepurbakalaan di Nusantara, sehingga dianggap sebagai salah satu ciri kebudayaan asli Nusantara.









Candi Ceto, percandian bercorak Hindu yang berstruktur punden berundak.

Struktur dasar punden berundak ditemukan pada situs-situs purbakala dari periode kebudayaan Megalit-Neolitikum pra-Hindu-Buddha masyarakat Austronesia, meskipun ternyata juga dipakai pada bangunan-bangunan dari periode selanjutnya, bahkan sampai periode Islam masuk di Nusantara. Persebarannya tercatat di kawasan Nusantara sampai Polinesia, meskipun di kawasan Polinesia tidak selalu berupa undakan, dalam struktur yang dikenal sebagai marae oleh orang Maori. Masuknya agama-agama dari luar sempat melunturkan praktik pembuatan punden berundak pada beberapa tempat di Nusantara, tetapi terdapat petunjuk adanya adopsi unsur asli ini pada bangunan-bangunan dari periode sejarah berikutnya, seperti terlihat pada Candi Borobudur, Candi Ceto, dan Kompleks Pemakaman Raja-raja Mataram di Imogiri.

Kata "punden" (atau pundian) berasal dari bahasa Jawa. Kata pepundhèn yang berarti "objek-objek pemujaan", mirip pengertiannya dengan konsep kabuyutan pada masyarakat Sunda. Dalam punden berundak, konsep dasar yang dipegang adalah para leluhur atau pihak yang dipuja berada pada tempat-tempat tinggi (biasanya puncak gunung). Istilah punden berundak menegaskan fungsi pemujaan/penghormatan atas leluhur, tidak semata struktur dasar tata ruangnya.

Fungsi punden berundak

Punden berundak memiliki fungsi sebagai alat atau sarana untuk melakukan pemujaan terhadap roh-roh leluhur, terkadang juga punden berundak digunakan sebagai tempat atau wadah persembahan atau sesajen. Pemujaan roh-roh leluhur di zaman dahulu dianggap sebagai bentuk untuk mencegah datangnya bencana atau musibah. 

Filosofi punden berundak

Bangunan punden berundak biasanya berjumlah ganjil, umumnya bangunan punden berundak ini memiliki tiga tingkatan yang disetiap tingkatannya memiliki filosofi yaitu :

Tingkatan pertama, memiliki filosofi yaitu melambangkan kehidupan janin pada saat manusia masih berada di dalam kandungan atau rahim.

Tingkatan kedua, memiliki filosofi yaitu melambangkan kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan didunia saat ini.

Tingkatan ketiga, memiliki filosofi yaitu melambangkan kehidupan manusia pada saat sudah meninggal dunia.



Teknik punden berundak adalah metode pembangunan struktur bangunan bertingkat yang menggunakan susunan batu-batu besar, membentuk teras atau undak-undak yang naik secara bertahap menuju satu titik pusat. Bangunan ini, yang sering juga disebut teras berundak atau punden bertingkat, merupakan ciri khas budaya megalitikum di Indonesia dan memiliki fungsi utama sebagai tempat pemujaan leluhur atau tempat suci. 

Poin-poin penting tentang teknik punden berundak:

Struktur:

Punden berundak dibangun dengan batu-batu besar yang disusun secara bertingkat, menyerupai teras atau undak-undak. 

Fungsi:

Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pemujaan roh leluhur atau tempat suci dalam ritual keagamaan. 

Konsep:

Punden berundak mencerminkan konsep bahwa leluhur berada di tempat yang tinggi, seperti puncak gunung. 

Ciri:

Punden berundak dapat memiliki pola memusat dengan bagian pusat tertinggi di tengah, atau pola memanjang dengan bagian pusat di belakang. 

Bahan:

Biasanya menggunakan batu andesit dan batu pasir dalam pembuatannya. 

Contoh:

Contoh punden berundak yang terkenal adalah Situs Gunung Padang di Jawa Barat, Situs Lebak Cibedug, dan Candi Borobudur. 

Teknik Pembangunannya:

Persiapan Lahan: Lahan yang akan menjadi lokasi punden berundak disiapkan dan dikompakkan. 

Pemasangan Batu Dasar: Batu-batu besar ditempatkan sebagai dasar teras pertama, membentuk fondasi. 

Pembangunan Teras: Teras-teras berikutnya dibangun dengan susunan batu yang semakin tinggi. 

Pemilihan Bahan: Batu yang digunakan harus kuat dan tahan terhadap cuaca. 

Penyusunan Batu: Batu-batu disusun dengan teknik tertentu agar kuat dan stabil. 

Makna Simbolik:

Tingkatan punden berundak dapat melambangkan berbagai tahapan kehidupan, seperti lahir, hidup di dunia, dan meninggal. 

Puncak punden berundak, yang sering kali dihiasi menhir atau patung, melambangkan tempat tertinggi, tempat para leluhur berada. 

Punden berundak merupakan warisan budaya yang penting dan menyimpan banyak misteri serta keajaiban. Pembangunannya melibatkan teknik khusus dan memiliki makna simbolik yang mendalam.




Kamis, 29 Mei 2025

Angka Istimewa

Angka Istimewa 11, 21, 25, 50, 60

"Sêwê" berarti sepuluh dalam Bahasa Jawa, "sêwêlas" berarti sebelas, "sêlikur" berarti dua puluh satu, "sêlawé" berarti dua puluh lima, "sékêt" berarti lima puluh, dan "sêwidak" berarti enam puluh. Penyebutan angka-angka ini dalam Bahasa Jawa memiliki filosofi tersendiri dalam berbagai tahap kehidupan manusia. 

Berikut adalah detail lebih lanjut tentang setiap angka:

Sewelas (11):

Merupakan singkatan dari "duwe roso welas" yang berarti memiliki rasa kasih sayang. Ini sering dikaitkan dengan masa remaja dan awal perkembangan emosional seseorang. 

Selikur (21):

Berarti "seneng lingguh kursi" yang berarti senang duduk di kursi. Ini terkait dengan usia di mana seseorang mulai memiliki kedudukan atau profesi. 

Selawe (25):

Berarti "seneng lanang lan wedok" yang berarti senang dengan laki-laki dan perempuan. Ini sering dikaitkan dengan usia pernikahan. 

Seket (50):

Berarti "seneng nganggo peci" yang berarti senang memakai peci atau topi. Ini terkait dengan usia di mana laki-laki mulai memiliki rambut beruban. 

Sewidak (60):

Singkatan dari "sejatine wis wayahe tindak" yang berarti sudah waktunya pergi. Ini terkait dengan usia lanjut dan persiapan untuk meninggal dunia.


"Selawe/selangkung" adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang merujuk pada angka 25. "Selawe" adalah bentuk ngoko (bahasa Jawa kasar) untuk 25, sedangkan "selangkung" adalah bentuk krama (bahasa Jawa halus). Dalam konteks tertentu, "selangkung" juga bisa berarti "sudah lewat" atau "sudah melewati masa pubertas". 

Penjelasan Lebih Detail:

Selawe (Ngoko): Merupakan cara sederhana atau tidak formal untuk menyebut angka 25 dalam bahasa Jawa. 

Selangkung (Krama): Bentuk yang lebih halus dan sopan untuk menyebut angka 25. 

Makna Tambahan Selangkung: Dalam beberapa konteks, "selangkung" bisa memiliki makna "sudah lewat" atau "sudah melewati masa pubertas". Ini mungkin terkait dengan ide bahwa usia 25 adalah usia di mana seseorang dianggap sudah melewati masa muda dan memasuki masa dewasa. 

Contoh Penggunaan:

"Inggih, umur kula selangkung." (Ya, umur saya sudah 25 tahun.)

"Kula wis selangkung, nanging mboten tresna." (Saya sudah 25 tahun, tapi tidak punya cinta.)

Kesimpulan:

"Selawe/ selangkung" adalah cara yang umum digunakan dalam bahasa Jawa untuk menyebut angka 25, dengan "selangkung" sebagai bentuk yang lebih halus. Selain itu, "selangkung" juga memiliki makna tambahan yang terkait dengan masa pubertas atau usia dewasa.





Senin, 05 Mei 2025

GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 4 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀



GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 4 

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀


Gunungan

Gunungan adalah struktur/karya berbentuk kerucut atau segitiga (bagian atas meruncing) yang terinspirasi dari bentuk gunung (api). 

Secara lebih khusus, pewayangan dan tradisi grebeg menggunakan istilah ini untuk dua hal yang berbeda.

Dua gunungan dipertunjukkan oleh dalang

Dalam pewayangan, gunungan adalah figur khusus berbentuk gambar gunung beserta isinya. Gunungan memiliki banyak fungsi dalam pertunjukan wayang, karena itu, terdapat banyak penggambaran yang berbeda-beda.

Pada fungsi standar, yaitu sebagai pembuka dan penutup suatu babak pertunjukan, tergambar dua hal pada dua sisi yang berbeda. Pada salah satu sisi, di bagian bawah terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai. Itu melambangkan pintu gerbang istana, dan pada waktu dimainkan gunungan dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kehidupan (kalpataru) yang dibelit oleh seekor ular naga. Pada cabang pohon digambarkan beberapa binatang hutan, seperti harimau, banteng, kera, dan burung. Gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara. Sisi ini melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Pada sisi sebaliknya, digambarkan kobaran api menyala-nyala. Ini melambangkan kekacauan dan neraka.

Sebelum wayang dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai, bagaikan dunia yang belum beriwayat. Setelah dimainkan, Gunungan dicabut, dijajarkan di sebelah kanan.

Gunungan dipakai sebagai tanda akan bergantinya lakon/tahapan cerita. Untuk itu gunungan ditancapkan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angin. Dalam hal ini sisi gunungan dibalik, di sebaliknya hanya terdapat cat merah-merah, dan warna inilah yang melambangkan api.

Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan rampogan, tentara yang siap siaga dengan bermacam senjata. Dalam hal ini Gunungan bisa berperan sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya, yakni mengikuti dialog dari dalang. Setelah lakon selesai, Gunungan ditancapkan lagi di tengah-tengah layar, melambangkan bahwa cerita sudah tamat.

Gunungan ada dua macam, yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan. Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga dalam zaman Kerajaan Demak. Kemudian pada zaman Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran. Gunungan dalam istilah pewayangan disebut Kayon. Kayon berasal dari kata Kayun. Gunungan mengandung ajaran filsafat yang tinggi, yaitu ajaran mengenai kebijaksanaan. Semua itu mengandung makna bahwa lakon dalam wayang berisikan pelajaran yang tinggi nilainya. Hal ini berarti bahwa pertunjukan wayang juga berisi pertunjukan wayang juga berisi ajaran filsafat yang tinggi.

Gunungan dalam upacara grebeg

Pada acara grebeg, gunungan merupakan susunan berbagai bahan pangan dan makanan yang ditata berbentuk kerucut menyerupai gunung. Gunungan ini nantinya akan dirayah atau diperebutkan oleh penonton acara, umumnya sebagai tanda syukur.

Gunungan menjadi penanda paling menonjol dalam upacara grebeg yang dilakukan pihak kraton Jawa, yaitu pada upacara grebeg (atau garebeg) Mulud (sebagai bagian rangkaian perayaan Sekaten), grebeg Sawal, dan grebe Besar. Terdapat beberapa macam gunungan dan penyertanya yang diarak pada upacara grebeg. Dua macam gunungan yang selalu muncul dalam acara grebeg adalah gunungan lanang/jaler/kakung (laki-laki) dan gunungan wadon/estri (perempuan). Dua macam gunungan lain adalah gunungan darat dan gunungan pawuan. Keempat gunungan ini akan diperebutkan oleh massa setelah didoakan. Satu gunungan istimewa yang hanya diarak setiap delapan tahun (sewindu) sekali, pada tahun Dal penanggalan Jawa, yaitu gunungan kutug atau bromo. Gunungan ini dilengkapi dengan dupa di bagian puncaknya dan tidak untuk diperebutkan massa. Penyerta gunungan yang juga diarak adalah picisan, songgom, tebok angkring, dan keranjang berisi beras. Penyerta ini adalah persembahan yang akan diberikan kepada petugas upacara di masjid.

Gunungan kakung/jaler (lelaki) pada Garebeg Mulud 24 Desember 2015 oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.

 

Gunungan estri (perempuan) pada Garebeg Mulud 24 Desember 2015 oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.

Gunungan dalam arsitektur





Bandara Adi Soemarmo yang dibentuk Gunungan

Bandara Adi Soemarmo di Surakarta adalah sebuah bangunan yang lapangan parkirnya dibentuk seperti Gunungan.


Patung gunungan dan orang yang memakai baju lurik

Patung pohon beringin di Malaysia

Gunungan Jawa dengan beranda tertutup dan dua yaksha besar di sisinya. Akar pohon menjulang ke dalam air. Ada beberapa binatang di mahkota pohon, tetapi kepala setan (kala) hilang.

Sosok Api ("api"), setan api Bali, yang memiliki bentuk yang mirip dengan kayonan


Gunungan dari variasi wayang kulit Lombok yang menceritakan kisah Serat Menak Sasak

Sebuah wayang beber di Keraton Mangkunegaran Surakarta. Adegan pertarungan yang khas, gunungan agak ke kanan dari tengah

Gunungan dijadikan logo resmi KTT G20 Bali 2022


Gunungan seperti yang tergambar di balik uang logam 100 rupiah terbitan tahun 1978

Gunungan sebagai motif logo halal baru Indonesia yang diadopsi pada tahun 2022


Sumber:





Minggu, 04 Mei 2025

GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 3 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀



GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 3

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀

Gunungan ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ atau kayonan ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧀ (juga kayon ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ , " kayu " dalam bahasa Jawa ) adalah struktur berbentuk kerucut atau segitiga (bagian atas meruncing) yang muncul dalam pertunjukan wayang kulit di seluruh nusantara . Seringkali berbentuk menyerupai gunung atau pohon .

Sebuah gunung pada wayang Jawa menunjukkan sebuah pintu tertutup diapit oleh dua yaksa .


Kemunculan gunung tersebut memiliki nilai spiritual tinggi yang mengajarkan tentang kebijaksanaan yang tercermin dalam lakon-lakon wayang yang dipentaskan.

Sebelum wayang dimainkan, gunungan atau kayonan ini ditaruh di tengah-tengah layar atau kelir.  Alat ini dimiringkan sedikit ke kanan, menandakan bahwa pertunjukan boneka belum dimulai, seperti dunia yang belum diceritakan. Gunung ditarik keluar dan disejajarkan di sisi kanan segera setelah pertunjukan dimulai.  Gunungan atau kayonan ini selanjutnya dapat difungsikan untuk menandai pergantian adegan atau babak cerita suatu lakon dengan menunjuk ke arah kiri.

Selain itu, gunung juga digunakan untuk melambangkan kehadiran api atau angin dengan penampakan kemerahan pada sisi belakang perangkat yang menghadap layar. Gunung juga dipakai untuk melambangkan latar belakang hutan, daratan, jalan dan sebagainya yang mengikuti dialog dari sang dalang .

Dalam pewayangan Jawa

Dalam fungsi standar, yaitu sebagai pembuka dan penutup suatu pertunjukan, dua hal digambarkan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ada gambar gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang bersenjatakan pedang dan perisai .  Bagian ini melambangkan pintu gerbang keraton, dan bila gunungan dimainkan maka digunakan sebagai keraton . Di puncak gunung terdapat pohon kehidupan ( kalpataru ) yang melilit ular naga . Beberapa binatang hutan digambarkan di cabang-cabang pohon, seperti harimau , banteng , monyet , dan burung . Gambaran keseluruhannya menggambarkan situasi di alam liar.  Sisi ini melambangkan keadaan dunia dan isinya. Di sisi lain, digambarkan api yang menyala. Ini melambangkan kekacauan dan neraka.

Terdapat dua jenis gunung yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan . Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak . Kemudian pada masa Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran. 

Sumber:

https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Gunungan


Yaksa ꦪꦑ꧀ꦱ (यक्ष) adalah makhluk gaib dalam mitologi Hindu, Jain, dan Buddha yang memiliki berbagai peran, mulai dari penjaga harta karun hingga raksasa jahat. 

Mereka sering dikaitkan dengan alam liar, pohon, hutan, dan kesuburan. Yaksa dapat digambarkan baik sebagai roh alam yang ramah atau sebagai makhluk yang nakal, berubah-ubah, atau bahkan jahat. 

Berikut adalah beberapa poin penting tentang Yaksa:

Peran:

Yaksa memiliki berbagai peran, termasuk penjaga harta karun, penjaga kuil Buddha, dan makhluk yang muncul dalam berbagai cerita. 

Karakter:

Mereka dapat digambarkan sebagai makhluk yang baik hati, nakal, berubah-ubah, rakus, atau bahkan pembunuh. 

Asal-usul:

Dalam beberapa cerita Buddha, Yaksa adalah raksasa buruk rupa yang terlahir kembali karena dosa-dosa yang mereka lakukan selama kehidupan lampau. 

Representasi:

Dalam seni kuil Thailand, Yaksa sering digambarkan sebagai penjaga pintu kuil dengan mata besar, gigi taring, dan wajah hijau. 

Yaksaprasna:

Episode dalam Mahabharata yang menceritakan dialog antara Yudistira dan seorang Yaksa, yang merupakan penjelmaan dari Batara Darma. 

Yaksini:

Perempuan Yaksa disebut Yaksini atau Yakshi. 

Variasi:

Ada berbagai jenis Yaksa, mulai dari roh alam yang ramah hingga siluman jahat yang menyerupai raksasa. 

Sebagai contoh, dalam kisah Yaksaprasna, Wikipedia, Yaksa mengajukan berbagai pertanyaan kepada Yudistira untuk menguji kebijaksanaan dan keadilan Yudistira. Dalam cerita rakyat Thai, Yaksa digambarkan sebagai makhluk yang seringkali digambarkan sebagai penjaga pintu kuil Buddha.


Yaksa ꦪꦑ꧀ꦱ (यक्ष)

Dalam cerita wayang, yaksa adalah sosok makhluk gaib yang sering digambarkan sebagai musuh atau antagonis bagi para tokoh utama. Yaksa memiliki berbagai peran dan karakteristik, mulai dari makhluk yang jahat dan kejam hingga makhluk yang bijaksana dan penuh kebijaksanaan. 

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang yaksa dalam cerita wayang:

Peran:

Musuh: Yaksa sering kali digambarkan sebagai musuh utama bagi para tokoh utama, terutama para ksatria seperti Arjuna, Abimanyu, dan tokoh-tokoh Pandawa lainnya. 

Antagonis: Yaksa juga dapat berperan sebagai antagonis dalam cerita, membawa gangguan dan kesulitan bagi para tokoh utama. 

Penguji: Dalam beberapa cerita, yaksa dapat menjadi penguji bagi para tokoh, seperti dalam kisah Yaksaprasna di mana Yudistira diuji oleh seorang yaksa. 

Simbol: Yaksa juga dapat menjadi simbol bagi hal-hal negatif seperti nafsu, kerakusan, dan ketidakadilan dalam masyarakat. 

Karakteristik:

Raksasa: Yaksa sering digambarkan memiliki bentuk fisik yang raksasa, seperti bertubuh besar dan berwajah bengis. 

Serang: Yaksa juga dikenal dengan kekuatan dan serangan yang dahsyat, sering kali menggunakan kekuatan supranatural seperti sihir atau mantra. 

Bijaksana: Namun, ada juga yaksa yang digambarkan sebagai makhluk bijaksana dan penuh kebijaksanaan, seperti yaksa yang mengajukan pertanyaan kepada Yudistira dalam kisah Yaksaprasna. 

Contoh Yaksa:

Cakil: Tokoh wayang raksasa yang lincah dan sering berlawanan dengan para ksatria. 

Naga Yaksa: Dalam beberapa cerita, yaksa juga dapat memiliki bentuk Naga atau ular raksasa. 

Hariti: Yaksa yang kemudian menjadi dewi kesuburan setelah bertobat. 

Makna Simbolik:

Nafsu: Yaksa sering diasosiasikan dengan nafsu manusia yang perlu dikendalikan. 

Kerakusan: Cakil, misalnya, dapat diartikan sebagai simbol kerakusan dan ketidakadilan. 

Kebaikan: Yaksa yang bijaksana, seperti dalam kisah Yaksaprasna, dapat menjadi simbol kebaikan dan kebijaksanaan. 

Dengan demikian, yaksa dalam cerita wayang memiliki peran yang beragam dan kompleks, mulai dari musuh hingga penguji, dan dapat menjadi simbol bagi berbagai aspek kehidupan manusia, baik yang positif maupun yang negatif.

Dewi Hariti yaitu istri dari dewa Kuwera. Konon dikisahkan bahwa Dewi Hariti pada mulanya adalah seorang yaksa yang gemar memakan daging anak-anak. Namun setelah mendapat pencerahan ajaran Agama Buddha, Sang Yaksa kemudian bertobat dan berbalik menjadi pelindung dan penyayang anak-anak. 

Hariti sedang memangku seorang bayi. abad ke-2-3 Peshawar, (Gandhara), Pakistan. Museum Britania.

Terdapat sejumlah arca Dewi Hariti di beberapa candi Buddha seperti Candi Mendut. Keberadaan arca Dewi Hariti ditujukan sebagai pengusir pengaruh jahat yang mungkin menimpa anak-anak.


Hārītī ( Sanskerta ), juga dikenal sebagai Hanzi :鬼子母(神) ; Pinyin : Guǐzǐmǔ(shén) , Jepang :鬼子母神, Romanisasi :  Kishimojin , Korea 귀자모신, 鬼子母神 ( RR : Gwijamoshin ) adalah seorang rākṣasī atau yakṣinī (roh alam) perempuan dalam agama Buddha. Ia muncul sebagai karakter dalam semua tradisi Buddha dan ia dipuja sebagai Pelindung Dharma yang ganas dan dewi kesuburan dalam agama Buddha Mahayana . Hārītī muncul dalam berbagai sutra Mahayana , termasuk dalam Sutra Teratai , di mana ia bersumpah untuk melindungi mereka yang menjunjung tinggi sutra tersebut. Ia juga disebutkan sebagai pelindung dalam Candragarbhasūtra.

Dalam mitologi agama Buddha diceritakan bahwa pada mulanya Hariti adalah raksasa perempuan bernama Abhirati dari kerajaan Satyagiri yang sukanya melahap daging anak kecil. Hal ini membuat ketakutan rakyat, oleh sang Budha, Hariti diberi wejangan tentang agama Buddha. Ketika sadar, ia ditabiskan menjadi Dewi Pelindung Anak atau Dewi Kesuburan. Biasanya Arca Hariti digambarkan berdada besar dan dikelilingi oleh anak kecil.


Hariti adalah dewi dalam agama Buddha dan Hindu yang dikenal sebagai dewi pelindung anak-anak, kesuburan, dan perlindungan. Ia juga dikenal sebagai yakshini atau roh alam yang dulunya seorang raksasa perempuan. Setelah diberi wejangan Buddha, Hariti menjadi dewi yang dihormati, terutama di India dan Asia Timur. 

Berikut beberapa poin penting tentang Hariti:

Asal-Usul:

Hariti awalnya adalah raksasa perempuan (yakshini) yang bernama Abhirati, dikenal suka memakan anak-anak. 

Perubahan:

Buddha kemudian mengajari Hariti tentang dharma, dan Hariti menjadi sadar atas perbuatannya. Ia bersumpah untuk melindungi anak-anak dan bersedia hidup dengan memakan buah delima. 

Peran dalam Buddha dan Hindu:

Hariti dihormati sebagai dewi kesuburan, perlindungan anak, dan persalinan yang mudah. Ia juga dikenal menakut-nakuti orang tua yang tidak bertanggung jawab. 

Penyebaran:

Pemujaan Hariti menyebar dari Gandhara ke India, kemudian ke Cina dan Jepang. 

Karakteristik:

Hariti sering digambarkan dengan anak-anak di lengannya, atau dikelilingi oleh anak-anak. 

Hariti adalah figur yang kompleks, dengan peran yang bervariasi, mulai dari iblis hingga dewi yang dihormati, yang menunjukkan transformasi dan penerimaan dalam agama Buddha dan Hindu.












GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 2 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀


GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 2

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀

Tentang Kayon dan Membangun Optimisme SDGs Dunia di KTT G20

SIARAN PERS NO.35/SP/TKMG20/11/2022

TIM KOMUNIKASI DAN MEDIA G20

Masyarakat Bali berharap segala hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, mampu memberikan jalan kesejahteraan dan harmonisasi untuk manusia serta alam semesta. Harapan itu seirama dengan logo Gunungan atau Kayon G20.

Gunungan merupakan simbol kehidupan serta kelestarian alam semesata. Sebagaimana gunungan itu pengharapan bagi manusia dunia untuk kehidupan berlanjutannya.

“Harapan yang disimbolkan dengan logo gunungan ini bagian dari upaya mendukung pencapaian sustainable development goals (SDGs),” kata Guru besar dan dosen sastra budaya Universitas Udayana Prof Dr I Nyoman Darma Putra, M.Litt di Denpasar, Selasa (8/11/2022).

Demikian pula slogan “Recover Together, Recover Stronger” (pulih bersama, bangkit lebih kuat), kata Darma, menjadikan optimisme masa depan cerah bagi seluruh bangsa demi pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDGs). ”Tentu di dalamnya ada Bali dan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan hasil-hasil dari konferensi ini bisa mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Sejumlah hal terkait SDGs adalah isu pembangunan sosial dan ekonomi, termasuk mengenai kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi, lingkungan dan keadilan sosial.

Bagi masyarakat Bali, gunung dalam simbol gunungan dapat merujuk kepada arti Wana Kerthi. Yaitu, upaya untuk menjaga kesucian dan kelestarian hutan dan pegunungan. Wana Kerthi diartikan sebagai gunung-laut atau nyegara gunung.

“Itu simbol kolaborasi yang menentukan kesuburan alam sebagai sumber kehidupan mahkluk hidup di bumi ini,” ujar Darma.

Gunungan juga dianggap sebagai sumber inspirasi yang berorientasi pada kesejahteraan dan kebahagian alam semesta. Menurut Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr I Wayan Adnyana SSn, MSn, KTT G20 memberikan harapan besar seluruh bumi beserta isinya. Selain itu, lanjutya, sekaligus menjadi momentum sejarah yang besar demi keberlanjutan nasib dunia kedepannya.

“Gunungan atau kayon juga menunjuk wujud gunung. Gunung merupakan sumber energi vulkanik, yang mampu menyuburkan alam dengan maha dahsyat.“

Gunungan dalam logo Presidensi G20 Indonesia mewakili semangat dan optimisme masyarakat Indonesia, khususnya untuk pulih dari pandemi dan segera memasuki babak baru kehidupan.

Filosofi Gunungan menggambarkan simbol kehidupan di alam semesta, khususnya perpindahan waktu menuju babak baru. Bentuk gunungan yang seperti segitiga adalah simbol dari purwa, madya, dan wasana, yakni siklus kehidupan dari awal sampai akhir.

Gunungan juga merupakan lambang pergantian lakon atau cerita tentang bagaimana manusia berjuang dan berusaha untuk mengubah jalan hidupnya. Bentuk Gunungan yang mengerucut ke atas bermakna bahwa segala daya dan upaya manusia diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Bali menyebut gunungan dalam pewayangan adalah kayon. Kayon ini merupakan simbolik alam semesata dengan segala isinya yang juga berkonotasi dengan gunung melambangkan kelestarian alam, budaya hingga ekonomi.

Kayon mewakili lambang alam di pewayangan. Bagi kepercayaan Hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang gambaran proses bercampurnya benda- benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta sebagai unsur elemen atau zat dasar dari alam beserta isinya.

Panca Mahabuta yaitu akasa, bayu, teja, apah, dan perthiwi. Sumber dari Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010, laman resmi PHDI Bali yang ditulis I Made Sumarya, menjelaskan alam semesta ini disusun dari lima anasir dasar Panca Mahabhuta. Akan tetapi yang paling dominan adalah perthiwi sehingga batu itu padat. Air juga demikian yang paling dominan anasir dasar Panca Mahabhuta. 

Matahari adalah Teja, Udara adalah Akasa, Bayu dan sebagainya. “Kandungan Akasa yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk ruang, menyebar. Kandungan bayu yang dominan menyebabkankeberadaan sesuatu dalam bentuk gerak atau benda bergerak, kandungan apah yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk benda padat,” tulis I Made Sumarya.

Kandungan yang dominan itu bisa lebih dari satu anasir Mahabhuta dalam suatu benda atau isi alam, misalnya kandungan apah dan prethiwi yang dominan menyebabkan keberadaan dalam bentuk padat cair (kental). Demikian keberadaan beraneka ragam isi alam ini ditentukan oleh kandungan yang berbeda-beda dari anasir Panca Mahabhuta.

Panca Mahabhuta sebagai anasir dasar penyusun alam semesta atau Buana azas Agung diciptakan oleh causa prima (Tuhan Yang Maha Esa) melalui proses penciptaan. Penciptaan ini merupakan pertemuan antara dua azas yaitu azas kesadaran serta maya yang bertingkat dari atas ke bawah yang berperan mentukan keberadaan alam semesta beserta isinya.

Tentang #G20Updates:

Berbagai produk komunikasi yang disiapkan oleh Tim Komunikasi dan Media G20. Bertujuan untuk menyediakan informasi yang komprehensif mengenai persiapan dan isu-isu yang berkaitan dengan KTT G20 yang diadakan di Bali, Indonesia pada 15-16 November 2022.

***

Narahubung:

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo – Usman Kansong (0816785320).

Dapatkan informasi lainnya di https://infopublik.id/kategori/g20


Sumber:

https://maritim.go.id/detail/tentang-kayon-dan-membangun-optimisme-sdgs-dunia-di-ktt-g20#:~:text=Kayon%20ini%20merupakan%20simbolik%20alam,mewakili%20lambang%20alam%20di%20pewayangan

Filosofi Gunungan dalam Logo Presidensi G20 Indonesia


Pembukaan G20 Bidang Pendidikan dan Kebudayaan atau ‘Kick Off G20 on Education and Culture’ diresmikan dengan dicabutnya simbolis Gunungan yang posisinya berada di tengah, kemudian menancapkannya kembali pada sisi sebelah kanan. 

Makna Gunungan dalam Logo G20 Indonesia
Prosesi mencabut dan menancapkan kembali Gunungan di posisi yang berbeda itu memiliki makna khusus. Mencabut atau menarik Gunungan mempunyai makna penjelmaan zat pertama manusia yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. 

Alasan mengapa Gunungan tidak lagi berada di tengah adalah Gunungan menjadi simbol harapan dimulainya sebuah kehidupan atau babak baru seorang manusia.  Gunungan dalam logo Presidensi G20 Indonesia merepresentasi semangat dan optimisme masyarakat Indonesia, khususnya untuk pulih dari pandemi dan segera memasuki babak baru kehidupan. 

Filosofi Gunungan menggambarkan simbol kehidupan di alam semesta, khususnya perpindahan waktu menuju babak baru. Bentuk gunungan yang seperti segitiga adalah simbol dari purwa, madya, dan wasana, yakni siklus kehidupan dari awal sampai akhir.  

Gunungan juga merupakan lambang pergantian lakon atau cerita tentang bagaimana manusia berjuang dan berusaha untuk mengubah jalan hidupnya. Bentuk Gunungan yang mengerucut ke atas bermakna bahwa segala daya dan upaya manusia diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. 


Informasi selengkapnya bisa SohIB pelajari unduh di tautan linktr.ee/G20pedia


Sumber:

https://www.indonesiabaik.id/infografis/filosofi-gunungan-dalam-logo-presidensi-g20-indonesia




https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7b/G20_Indonesia_2022_logo.svg/1229px-G20_Indonesia_2022_logo.svg.png