Jumat, 15 Maret 2024

Serat Wedhatama (ꦱꦼꦫꦠ꧀ꦮꦼꦝꦠꦩ) 5

 

Suwung

Suwung dianggap sebagai kenyataan mutlak, asal dari segala sesuatu di alam semesta.

Suwung (aksara Jawa: ꦱꦸꦮꦸꦁ) adalah konsep dalam masyarakat Jawa untuk menggambarkan rasa hampa akan kesadaran diri dengan lingkungannya. Hampa di sini dapat diartikan sebagai kondisi kosong yang arupa alias tidak memiliki bentuk.[1] Konsep suwung dipandang sebagai asal-muasal dari alam semesta, hakikat dari segala sesuatu.[2] Suwung adalah kenyataan mutlak yang tidak dapat dijangkau oleh indra manusiawi.[3]

Sementara itu, kelompok beraliran sufisme mengartikan suwung dengan berbeda. Suwung bagi mereka mengandung makna kekosongan yang bernuansa pengendalian diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berkaitan dengan ketuhanan. Dalam ajaran Suluk Suksma Lelana, suwung adalah tahapan tertinggi, yaitu makrifat. Dalam tahapan ini, seseorang telah berhasil mencapai hakikat ketuhanannya.[1]

Naskah

Serat Wedhatama membagi alam semesta dibagi menjadi dua, yakni alam yang selalu berubah/fana dan alam yang tetap/abadi. Konsep ini diterangkan antara lain termuat dalam pupuh pangkur bait ke-14 yang berbunyi:[1]

Sejatine Kang mangkana Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi. Bali alaming nga-SUWUNG, tan karem karameyan. Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula mulanira. Mulane wong anom sami.

Artinya:

Sebenarnya yang demikian itu sudah mendapat anugerah Tuhan. Kembali ke alam kosong, tidak mabuk keduniawian yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal mula. Demikianlah yang terjadi wahai anak muda.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. Lompat ke:a b c ""SUWUNG" : KONSEP PROBLEM SOLVING KAUM SUFI SUKU JAWA DI KOTA MALANG – Fakultas Pendidikan Psikologi – Universitas Negeri Malang" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-08-21. Diakses tanggal 2019-08-21.
  2. ^ Chodjim, Achmad (2005). Membangun surga. Penerbit Serambi. ISBN 9789791600927.
  3. ^ Chodjim, Achmad (2008-03-01). Al-ikhlash. Serambi Ilmu Semesta. ISBN 9789790240001.

https://id.wikipedia.org/wiki/Suwung

 



SULUK SUKMA LELANA

Dening : R. Ng. Ranggawarsita

Punapa yen wus kakekat,
estu lajeng sarengatnya kawuri,
yen saking pamanggih ulun,
tan wonten kang tinilar,
jer muktamat ing hadis ugi kasebut,
kak tanpa sarengat batal,
sarak tanpa kak tan dadi.

Paran Gusti yen kapisah,
temah mangke kakalihira sisip,
kang lempeng taksih ing kawruh,
sakawanira tunggal,
ngelmuning Hyang sarengat myang tarekatu,
kakekat miwah makripat,
punika kamil apdoli.

Terjemahan: Suluk Suksma Lelana


Apakah jika seseorang sudah sampai ke tingkatan hakikat, dia boleh meninggalkan syariat?

Menurut pendapatku dan pendapat Hadis tak boleh ada ajaran syariat yang diabaikan, karena kebenaran atau haq tanpa syariat tak jadi dan syariat tanpa haq batal juga.

Perjalalanan menuju Tuhan tak boleh hanya dengan pendekatan secara partial, mereka harus melakukan empat hal itu sebagai satu kesatuan, yaitu :

syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat,

inilah suatu hal yang sempurna.

 

https://alangalangkumitir.wordpress.com/2008/10/27/suluk-sukma-lelana/

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar