Rabu, 13 Maret 2024

Kejawen (ꦏꦗꦮꦺꦤ꧀) 1

 

Kejawen

Simbol religius Hyang dalam Aksara Jawa dengan menggunakan cakrabindu artinya simbol yang disucikan.

Kejawen (JawaKajawènCarakanꦏꦗꦮꦺꦤ꧀Pegonكَجَوٓينْ) adalah pandangan hidup yang dianut di sebagian Pulau Jawa oleh suku Jawa. Kejawen merupakan kumpulan pandangan hidup dan filsafat sepanjang peradaban orang Jawa yang menjadi pengetahuan kolektif bersama, hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya.

Etimologi

Seorang petapa Jawa sedang bersemadi di bawah pohon beringin pada era Hindia Belanda 1916.

Kata “Kejawen” berasal dari kata "Jawa", yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah "segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)". Penamaan "kejawen" bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia), Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang dianut oleh orang Jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.

Kejawen dalam opini umum berisikan tentang senibudayatradisiritualsikap, serta filosofi orang-orang Jawa. Kejawen juga memiliki arti spiritualistis atau spiritualistis suku Jawa, laku olah spiritualis kejawen yang utama adalah Pasa (Berpuasa) dan Tapa (Bertapa).

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen, tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan "ibadah"). Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep "keseimbangan". Sifat Kejawen yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.

Simbol-simbol "laku" berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keriswayang, pembacaan mantra, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri) yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah ada dalam ajaran filsafat kejawen.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik HinduBuddhaIslam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

Kitab dan Teks Utama

Kejawen tidak memiliki Kitab Suci, tetapi orang Jawa memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran Kejawen tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat), kesemuanya merupakan ajaran yang tersirat untuk membentuk laku utama yaitu Tata Krama (Aturan Hidup Yang Luhur) untuk membentuk orang Jawa yang hanjawani (memiliki akhlak terpuji), hal-hal tersebut terutama banyak tertuang dalam jenis karya tulis sebagai berikut:

  • Kakawin (Sastra Kawi) – Kitab sastra metrum kuno (lama) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang berjumlah 5 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno
  • Macapat (Sastra Carakan) – Kitab sastra metrum anyar (baru) berisi wejangan (nasihat) berupa ajaran yang tersirat dalam kisah perjalanan yang terdiri lebih dari 82 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan huruf Pegon
  • Babad (Sejarah) – Kitab yang menceritakan sejarah nusantara berjumlah lebih dari 15 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno dan bahasa Jawa Kuno serta aksara Jawa dan bahasa Jawa
  • Suluk (Jalan Spiritual) – Kitab tata cara menempuh jalan supranatural untuk membentuk pribadi hanjawani yang luhur dan dipercaya siapa saja yang mengalami kesempurnaan akan memperoleh kekuatan supranatural yang berjumlah lebih dari 35 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa beberapa ditulis menggunakan huruf Pegon. Suluk juga merupakan jenis sastra yang ditembangkan.
  • Kidung (Doa-doa) – Sekumpulan doa-doa atau mantra-mantra yang dibaca dengan nada khas, sama seperti halnya doa lain ditujukan kepada tuhan bagi pemeluknya masing-masing yang berjumlah 7 kitab, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa
  • Piwulang (Pengajaran) – Secara bahasa berarti "yang diulang-ulang" berupa kitab yang mengajarkan tatanan terdiri dari Pituduh (Perintah) dan Wewaler (Larangan) untuk membentuk pribadi yang hanjawani, ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa
  • Primbon (Himpunan) – Secara bahasa berarti "induk", "kumpulan", atau "rangkuman" berupa kitab praktik praktis dalam pelaksanaan tatanan adat sepanjang waktu, juga biasanya dilengkapi cara untuk membaca gelagat alam semesta untuk memprediksi kejadian. ditulis menggunakan aksara Jawa dan bahasa Jawa

Naskah-naskah di atas mencakup seluruh sendi kehidupan orang Jawa dari kelahiran sampai kematian, dari resep makanan kuno sampai asmaragama (kamasutra), dan ada ribuan naskah lainya yang menyiratkan kitab-kitab utama di atas dalam bentuk karya tulis, biasanya dalam bentuk ajaran nasihat, falsafah, kaweruh (pengetahuan), dan sebagainya.

Beberapa Aliran Kejawen

Terdapat ratusan aliran kejawen dengan penekanan ajaran yang berbeda-beda. Beberapa jelas-jelas sinkretik, yang lainnya bersifat reaktif terhadap ajaran agama tertentu.

Namun biasanya ajaran yang banyak anggotanya lebih menekankan pada cara mencapai keseimbangan hidup dan tidak melarang anggotanya mempraktikkan ajaran agama lain. Kejawen memiliki beberapa cabang aliran, diantaranya:

Kepustakaan





Semar

A shadow puppet in the form of Semar. Semar, said to be one of three divine brothers, is known for his powerful farts and insatiable hunger


 



   Garuda
   File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Wajangfiguur van karbouwenhuid de mythische vogel Garuda voorstellend TMnr 1772-697.jpg

Wajangfiguur van karbouwenhuid, de mythische vogel Garuda voorstellend

  

Tradisi Unggahan Bonokeling
Tradisi Unggahan merupakan upacara selamatan kepada leluhur masyarakat adat Bonokeling, Banyumas, Jawa Tengah. Biasanya dilaksanakan pada hari Jumat terakhir menjelang bulan Ramadan. Peserta Tradisi Unggahan berjalan kaki dari rumah mereka berpuluh kilometer menuju makam leluhur sebagai wuud rasa hormat dan pengabdian.


Labuh Sesaji adalah salah satu bentuk upacara adat masyarakat desa Sarangan Plaosan Magetan untuk menghormati sesepuh desa dengan memberikan sesaji berupa tumpeng gono gini.

  
LABUH LAUT "LARUNG SEMBONYO" NELAYAN PRIGI 2014

Bromo Tengger Semeru National Park, East Java, Indonesia: Hawkers selling flowers as offerings at the crater rim of Bromo Volcano.

File:COLLECTIE TROPENMUSEUM Olieverfschilderij voorstellende portret van de Regent van Galoeh Raden Aria Koesoema di Ninggrat TMnr A-5752.jpg
Olieverfschilderij. Raden Adipati Aria Koesoema Adiningrat was van 1839 tot 1886 regent van Galuh, een gebied in het zuidoostelijk deel van de Preanger. Deze schatrijke Soendanese regent vertegenwoordigde het klassieke type van de 19de eeuwse bupati (regent), stammend uit een geslacht van hoge priyayi's (adel).

De status en het grote aanzien dat dergelijke hoogadellijke lieden genoten werd onder meer in stand gehouden door het uiterlijk vertoon en waardigheidstekens zoals ook op dit portret te zien zijn. Ze zijn deels inheems en deels Europees. Het portret verbeeldt in die zin de ambivalente positie van de Javaanse adel in het derde kwart van de 19de eeuw: enerzijds op basis van oude tradities heersend over de inheemse bevolking en anderzijds gericht op (en ondergeschikt aan) het Europese bestuur.

Inheemse elementen op het portret zijn: een staatsielans met de piek gehuld in een schede en een gele pajong, beide pusaka (erfstukken) van de regent. De kris die diagonaal op zijn rug wordt gedragen (deze wijze van dragen geldt als teken van vredelievende bedoelingen), de kain panjang (wikkelrok) met aan de voorzijde ene wriong (plooi) en de iket kepala (hoofddeksel).

Daarnaast zijn er ook Europese elementen te zien: de pet met goudgalon in zijn linkerhand, de donkerblauwe lakense jas met goudborduursel en de gouden keten om zijn hals met een penning waarop vermoedelijk het Nederlandse koninkrijkswapen is aangebracht. De medaille is eveneens een Nederlandse onderscheiding. Het boek op tafel etaleert zijn ambtelijke loyaliteit aan de Nederlands-Indische wetten.

Raden Adipati Aria Kusuma Adiningrat was bupati (regent) of Galuh from 1839 to 1886.

Included in the painting are insignias and status symbols, both European and indigenous, confirming the fact that the bupati is a man of distinction. The painting in that sense shows the ambivalent position of the Javanese noblesse during the third quarter of the nineteenth century: based on the ancient traditions of Javanese rule on the one hand, and that focused on (and submitted to) European rule on the other.. Portret van de Regent van Galoeh Raden Aria Koesoema di Ninggrat

喀嘉文
Kājiāwén



Tidak ada komentar:

Posting Komentar