GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 3
ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀
Gunungan ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ atau kayonan ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧀ (juga kayon ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ , " kayu " dalam bahasa Jawa ) adalah struktur berbentuk kerucut atau segitiga (bagian atas meruncing) yang muncul dalam pertunjukan wayang kulit di seluruh nusantara . Seringkali berbentuk menyerupai gunung atau pohon .
Sebuah gunung pada wayang Jawa menunjukkan sebuah pintu tertutup diapit oleh dua yaksa .
Kemunculan gunung tersebut memiliki nilai spiritual tinggi yang mengajarkan tentang kebijaksanaan yang tercermin dalam lakon-lakon wayang yang dipentaskan.
Sebelum wayang dimainkan, gunungan atau kayonan ini ditaruh di tengah-tengah layar atau kelir. Alat ini dimiringkan sedikit ke kanan, menandakan bahwa pertunjukan boneka belum dimulai, seperti dunia yang belum diceritakan. Gunung ditarik keluar dan disejajarkan di sisi kanan segera setelah pertunjukan dimulai. Gunungan atau kayonan ini selanjutnya dapat difungsikan untuk menandai pergantian adegan atau babak cerita suatu lakon dengan menunjuk ke arah kiri.
Selain itu, gunung juga digunakan untuk melambangkan kehadiran api atau angin dengan penampakan kemerahan pada sisi belakang perangkat yang menghadap layar. Gunung juga dipakai untuk melambangkan latar belakang hutan, daratan, jalan dan sebagainya yang mengikuti dialog dari sang dalang .
Dalam pewayangan Jawa
Dalam fungsi standar, yaitu sebagai pembuka dan penutup suatu pertunjukan, dua hal digambarkan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ada gambar gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang bersenjatakan pedang dan perisai . Bagian ini melambangkan pintu gerbang keraton, dan bila gunungan dimainkan maka digunakan sebagai keraton . Di puncak gunung terdapat pohon kehidupan ( kalpataru ) yang melilit ular naga . Beberapa binatang hutan digambarkan di cabang-cabang pohon, seperti harimau , banteng , monyet , dan burung . Gambaran keseluruhannya menggambarkan situasi di alam liar. Sisi ini melambangkan keadaan dunia dan isinya. Di sisi lain, digambarkan api yang menyala. Ini melambangkan kekacauan dan neraka.
Terdapat dua jenis gunung yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan . Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak . Kemudian pada masa Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran.
Sumber:
https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Gunungan
Yaksa ꦪꦑ꧀ꦱ (यक्ष) adalah makhluk gaib dalam mitologi Hindu, Jain, dan Buddha yang memiliki berbagai peran, mulai dari penjaga harta karun hingga raksasa jahat.
Mereka sering dikaitkan dengan alam liar, pohon, hutan, dan kesuburan. Yaksa dapat digambarkan baik sebagai roh alam yang ramah atau sebagai makhluk yang nakal, berubah-ubah, atau bahkan jahat.
Berikut adalah beberapa poin penting tentang Yaksa:
Peran:
Yaksa memiliki berbagai peran, termasuk penjaga harta karun, penjaga kuil Buddha, dan makhluk yang muncul dalam berbagai cerita.
Karakter:
Mereka dapat digambarkan sebagai makhluk yang baik hati, nakal, berubah-ubah, rakus, atau bahkan pembunuh.
Asal-usul:
Dalam beberapa cerita Buddha, Yaksa adalah raksasa buruk rupa yang terlahir kembali karena dosa-dosa yang mereka lakukan selama kehidupan lampau.
Representasi:
Dalam seni kuil Thailand, Yaksa sering digambarkan sebagai penjaga pintu kuil dengan mata besar, gigi taring, dan wajah hijau.
Yaksaprasna:
Episode dalam Mahabharata yang menceritakan dialog antara Yudistira dan seorang Yaksa, yang merupakan penjelmaan dari Batara Darma.
Yaksini:
Perempuan Yaksa disebut Yaksini atau Yakshi.
Variasi:
Ada berbagai jenis Yaksa, mulai dari roh alam yang ramah hingga siluman jahat yang menyerupai raksasa.
Sebagai contoh, dalam kisah Yaksaprasna, Wikipedia, Yaksa mengajukan berbagai pertanyaan kepada Yudistira untuk menguji kebijaksanaan dan keadilan Yudistira. Dalam cerita rakyat Thai, Yaksa digambarkan sebagai makhluk yang seringkali digambarkan sebagai penjaga pintu kuil Buddha.
Yaksa ꦪꦑ꧀ꦱ (यक्ष)
Dalam cerita wayang, yaksa adalah sosok makhluk gaib yang sering digambarkan sebagai musuh atau antagonis bagi para tokoh utama. Yaksa memiliki berbagai peran dan karakteristik, mulai dari makhluk yang jahat dan kejam hingga makhluk yang bijaksana dan penuh kebijaksanaan.
Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang yaksa dalam cerita wayang:
Peran:
Musuh: Yaksa sering kali digambarkan sebagai musuh utama bagi para tokoh utama, terutama para ksatria seperti Arjuna, Abimanyu, dan tokoh-tokoh Pandawa lainnya.
Antagonis: Yaksa juga dapat berperan sebagai antagonis dalam cerita, membawa gangguan dan kesulitan bagi para tokoh utama.
Penguji: Dalam beberapa cerita, yaksa dapat menjadi penguji bagi para tokoh, seperti dalam kisah Yaksaprasna di mana Yudistira diuji oleh seorang yaksa.
Simbol: Yaksa juga dapat menjadi simbol bagi hal-hal negatif seperti nafsu, kerakusan, dan ketidakadilan dalam masyarakat.
Karakteristik:
Raksasa: Yaksa sering digambarkan memiliki bentuk fisik yang raksasa, seperti bertubuh besar dan berwajah bengis.
Serang: Yaksa juga dikenal dengan kekuatan dan serangan yang dahsyat, sering kali menggunakan kekuatan supranatural seperti sihir atau mantra.
Bijaksana: Namun, ada juga yaksa yang digambarkan sebagai makhluk bijaksana dan penuh kebijaksanaan, seperti yaksa yang mengajukan pertanyaan kepada Yudistira dalam kisah Yaksaprasna.
Contoh Yaksa:
Cakil: Tokoh wayang raksasa yang lincah dan sering berlawanan dengan para ksatria.
Naga Yaksa: Dalam beberapa cerita, yaksa juga dapat memiliki bentuk Naga atau ular raksasa.
Hariti: Yaksa yang kemudian menjadi dewi kesuburan setelah bertobat.
Makna Simbolik:
Nafsu: Yaksa sering diasosiasikan dengan nafsu manusia yang perlu dikendalikan.
Kerakusan: Cakil, misalnya, dapat diartikan sebagai simbol kerakusan dan ketidakadilan.
Kebaikan: Yaksa yang bijaksana, seperti dalam kisah Yaksaprasna, dapat menjadi simbol kebaikan dan kebijaksanaan.
Dengan demikian, yaksa dalam cerita wayang memiliki peran yang beragam dan kompleks, mulai dari musuh hingga penguji, dan dapat menjadi simbol bagi berbagai aspek kehidupan manusia, baik yang positif maupun yang negatif.
Dewi Hariti yaitu istri dari dewa Kuwera. Konon dikisahkan bahwa Dewi Hariti pada mulanya adalah seorang yaksa yang gemar memakan daging anak-anak. Namun setelah mendapat pencerahan ajaran Agama Buddha, Sang Yaksa kemudian bertobat dan berbalik menjadi pelindung dan penyayang anak-anak.
Hariti sedang memangku seorang bayi. abad ke-2-3 Peshawar, (Gandhara), Pakistan. Museum Britania.
Terdapat sejumlah arca Dewi Hariti di beberapa candi Buddha seperti Candi Mendut. Keberadaan arca Dewi Hariti ditujukan sebagai pengusir pengaruh jahat yang mungkin menimpa anak-anak.
Hārītī ( Sanskerta ), juga dikenal sebagai Hanzi :鬼子母(神) ; Pinyin : Guǐzǐmǔ(shén) , Jepang :鬼子母神, Romanisasi : Kishimojin , Korea 귀자모신, 鬼子母神 ( RR : Gwijamoshin ) adalah seorang rākṣasī atau yakṣinī (roh alam) perempuan dalam agama Buddha. Ia muncul sebagai karakter dalam semua tradisi Buddha dan ia dipuja sebagai Pelindung Dharma yang ganas dan dewi kesuburan dalam agama Buddha Mahayana . Hārītī muncul dalam berbagai sutra Mahayana , termasuk dalam Sutra Teratai , di mana ia bersumpah untuk melindungi mereka yang menjunjung tinggi sutra tersebut. Ia juga disebutkan sebagai pelindung dalam Candragarbhasūtra.
Dalam mitologi agama Buddha diceritakan bahwa pada mulanya Hariti adalah raksasa perempuan bernama Abhirati dari kerajaan Satyagiri yang sukanya melahap daging anak kecil. Hal ini membuat ketakutan rakyat, oleh sang Budha, Hariti diberi wejangan tentang agama Buddha. Ketika sadar, ia ditabiskan menjadi Dewi Pelindung Anak atau Dewi Kesuburan. Biasanya Arca Hariti digambarkan berdada besar dan dikelilingi oleh anak kecil.
Hariti adalah dewi dalam agama Buddha dan Hindu yang dikenal sebagai dewi pelindung anak-anak, kesuburan, dan perlindungan. Ia juga dikenal sebagai yakshini atau roh alam yang dulunya seorang raksasa perempuan. Setelah diberi wejangan Buddha, Hariti menjadi dewi yang dihormati, terutama di India dan Asia Timur.
Berikut beberapa poin penting tentang Hariti:
Asal-Usul:
Hariti awalnya adalah raksasa perempuan (yakshini) yang bernama Abhirati, dikenal suka memakan anak-anak.
Perubahan:
Buddha kemudian mengajari Hariti tentang dharma, dan Hariti menjadi sadar atas perbuatannya. Ia bersumpah untuk melindungi anak-anak dan bersedia hidup dengan memakan buah delima.
Peran dalam Buddha dan Hindu:
Hariti dihormati sebagai dewi kesuburan, perlindungan anak, dan persalinan yang mudah. Ia juga dikenal menakut-nakuti orang tua yang tidak bertanggung jawab.
Penyebaran:
Pemujaan Hariti menyebar dari Gandhara ke India, kemudian ke Cina dan Jepang.
Karakteristik:
Hariti sering digambarkan dengan anak-anak di lengannya, atau dikelilingi oleh anak-anak.
Hariti adalah figur yang kompleks, dengan peran yang bervariasi, mulai dari iblis hingga dewi yang dihormati, yang menunjukkan transformasi dan penerimaan dalam agama Buddha dan Hindu.