Kamis, 29 Mei 2025

Angka Istimewa

Angka Istimewa 11, 21, 25, 50, 60

"Sêwê" berarti sepuluh dalam Bahasa Jawa, "sêwêlas" berarti sebelas, "sêlikur" berarti dua puluh satu, "sêlawé" berarti dua puluh lima, "sékêt" berarti lima puluh, dan "sêwidak" berarti enam puluh. Penyebutan angka-angka ini dalam Bahasa Jawa memiliki filosofi tersendiri dalam berbagai tahap kehidupan manusia. 

Berikut adalah detail lebih lanjut tentang setiap angka:

Sewelas (11):

Merupakan singkatan dari "duwe roso welas" yang berarti memiliki rasa kasih sayang. Ini sering dikaitkan dengan masa remaja dan awal perkembangan emosional seseorang. 

Selikur (21):

Berarti "seneng lingguh kursi" yang berarti senang duduk di kursi. Ini terkait dengan usia di mana seseorang mulai memiliki kedudukan atau profesi. 

Selawe (25):

Berarti "seneng lanang lan wedok" yang berarti senang dengan laki-laki dan perempuan. Ini sering dikaitkan dengan usia pernikahan. 

Seket (50):

Berarti "seneng nganggo peci" yang berarti senang memakai peci atau topi. Ini terkait dengan usia di mana laki-laki mulai memiliki rambut beruban. 

Sewidak (60):

Singkatan dari "sejatine wis wayahe tindak" yang berarti sudah waktunya pergi. Ini terkait dengan usia lanjut dan persiapan untuk meninggal dunia.


"Selawe/selangkung" adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang merujuk pada angka 25. "Selawe" adalah bentuk ngoko (bahasa Jawa kasar) untuk 25, sedangkan "selangkung" adalah bentuk krama (bahasa Jawa halus). Dalam konteks tertentu, "selangkung" juga bisa berarti "sudah lewat" atau "sudah melewati masa pubertas". 

Penjelasan Lebih Detail:

Selawe (Ngoko): Merupakan cara sederhana atau tidak formal untuk menyebut angka 25 dalam bahasa Jawa. 

Selangkung (Krama): Bentuk yang lebih halus dan sopan untuk menyebut angka 25. 

Makna Tambahan Selangkung: Dalam beberapa konteks, "selangkung" bisa memiliki makna "sudah lewat" atau "sudah melewati masa pubertas". Ini mungkin terkait dengan ide bahwa usia 25 adalah usia di mana seseorang dianggap sudah melewati masa muda dan memasuki masa dewasa. 

Contoh Penggunaan:

"Inggih, umur kula selangkung." (Ya, umur saya sudah 25 tahun.)

"Kula wis selangkung, nanging mboten tresna." (Saya sudah 25 tahun, tapi tidak punya cinta.)

Kesimpulan:

"Selawe/ selangkung" adalah cara yang umum digunakan dalam bahasa Jawa untuk menyebut angka 25, dengan "selangkung" sebagai bentuk yang lebih halus. Selain itu, "selangkung" juga memiliki makna tambahan yang terkait dengan masa pubertas atau usia dewasa.





Senin, 05 Mei 2025

GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 4 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀



GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 4 

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀


Gunungan

Gunungan adalah struktur/karya berbentuk kerucut atau segitiga (bagian atas meruncing) yang terinspirasi dari bentuk gunung (api). 

Secara lebih khusus, pewayangan dan tradisi grebeg menggunakan istilah ini untuk dua hal yang berbeda.

Dua gunungan dipertunjukkan oleh dalang

Dalam pewayangan, gunungan adalah figur khusus berbentuk gambar gunung beserta isinya. Gunungan memiliki banyak fungsi dalam pertunjukan wayang, karena itu, terdapat banyak penggambaran yang berbeda-beda.

Pada fungsi standar, yaitu sebagai pembuka dan penutup suatu babak pertunjukan, tergambar dua hal pada dua sisi yang berbeda. Pada salah satu sisi, di bagian bawah terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai. Itu melambangkan pintu gerbang istana, dan pada waktu dimainkan gunungan dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kehidupan (kalpataru) yang dibelit oleh seekor ular naga. Pada cabang pohon digambarkan beberapa binatang hutan, seperti harimau, banteng, kera, dan burung. Gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara. Sisi ini melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Pada sisi sebaliknya, digambarkan kobaran api menyala-nyala. Ini melambangkan kekacauan dan neraka.

Sebelum wayang dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai, bagaikan dunia yang belum beriwayat. Setelah dimainkan, Gunungan dicabut, dijajarkan di sebelah kanan.

Gunungan dipakai sebagai tanda akan bergantinya lakon/tahapan cerita. Untuk itu gunungan ditancapkan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angin. Dalam hal ini sisi gunungan dibalik, di sebaliknya hanya terdapat cat merah-merah, dan warna inilah yang melambangkan api.

Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan rampogan, tentara yang siap siaga dengan bermacam senjata. Dalam hal ini Gunungan bisa berperan sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya, yakni mengikuti dialog dari dalang. Setelah lakon selesai, Gunungan ditancapkan lagi di tengah-tengah layar, melambangkan bahwa cerita sudah tamat.

Gunungan ada dua macam, yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan. Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga dalam zaman Kerajaan Demak. Kemudian pada zaman Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran. Gunungan dalam istilah pewayangan disebut Kayon. Kayon berasal dari kata Kayun. Gunungan mengandung ajaran filsafat yang tinggi, yaitu ajaran mengenai kebijaksanaan. Semua itu mengandung makna bahwa lakon dalam wayang berisikan pelajaran yang tinggi nilainya. Hal ini berarti bahwa pertunjukan wayang juga berisi pertunjukan wayang juga berisi ajaran filsafat yang tinggi.

Gunungan dalam upacara grebeg

Pada acara grebeg, gunungan merupakan susunan berbagai bahan pangan dan makanan yang ditata berbentuk kerucut menyerupai gunung. Gunungan ini nantinya akan dirayah atau diperebutkan oleh penonton acara, umumnya sebagai tanda syukur.

Gunungan menjadi penanda paling menonjol dalam upacara grebeg yang dilakukan pihak kraton Jawa, yaitu pada upacara grebeg (atau garebeg) Mulud (sebagai bagian rangkaian perayaan Sekaten), grebeg Sawal, dan grebe Besar. Terdapat beberapa macam gunungan dan penyertanya yang diarak pada upacara grebeg. Dua macam gunungan yang selalu muncul dalam acara grebeg adalah gunungan lanang/jaler/kakung (laki-laki) dan gunungan wadon/estri (perempuan). Dua macam gunungan lain adalah gunungan darat dan gunungan pawuan. Keempat gunungan ini akan diperebutkan oleh massa setelah didoakan. Satu gunungan istimewa yang hanya diarak setiap delapan tahun (sewindu) sekali, pada tahun Dal penanggalan Jawa, yaitu gunungan kutug atau bromo. Gunungan ini dilengkapi dengan dupa di bagian puncaknya dan tidak untuk diperebutkan massa. Penyerta gunungan yang juga diarak adalah picisan, songgom, tebok angkring, dan keranjang berisi beras. Penyerta ini adalah persembahan yang akan diberikan kepada petugas upacara di masjid.

Gunungan kakung/jaler (lelaki) pada Garebeg Mulud 24 Desember 2015 oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.

 

Gunungan estri (perempuan) pada Garebeg Mulud 24 Desember 2015 oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.

Gunungan dalam arsitektur





Bandara Adi Soemarmo yang dibentuk Gunungan

Bandara Adi Soemarmo di Surakarta adalah sebuah bangunan yang lapangan parkirnya dibentuk seperti Gunungan.


Patung gunungan dan orang yang memakai baju lurik

Patung pohon beringin di Malaysia

Gunungan Jawa dengan beranda tertutup dan dua yaksha besar di sisinya. Akar pohon menjulang ke dalam air. Ada beberapa binatang di mahkota pohon, tetapi kepala setan (kala) hilang.

Sosok Api ("api"), setan api Bali, yang memiliki bentuk yang mirip dengan kayonan


Gunungan dari variasi wayang kulit Lombok yang menceritakan kisah Serat Menak Sasak

Sebuah wayang beber di Keraton Mangkunegaran Surakarta. Adegan pertarungan yang khas, gunungan agak ke kanan dari tengah

Gunungan dijadikan logo resmi KTT G20 Bali 2022


Gunungan seperti yang tergambar di balik uang logam 100 rupiah terbitan tahun 1978

Gunungan sebagai motif logo halal baru Indonesia yang diadopsi pada tahun 2022


Sumber:





Minggu, 04 Mei 2025

GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 3 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀



GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 3

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀

Gunungan ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ atau kayonan ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ꦤꦤ꧀ (juga kayon ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ , " kayu " dalam bahasa Jawa ) adalah struktur berbentuk kerucut atau segitiga (bagian atas meruncing) yang muncul dalam pertunjukan wayang kulit di seluruh nusantara . Seringkali berbentuk menyerupai gunung atau pohon .

Sebuah gunung pada wayang Jawa menunjukkan sebuah pintu tertutup diapit oleh dua yaksa .


Kemunculan gunung tersebut memiliki nilai spiritual tinggi yang mengajarkan tentang kebijaksanaan yang tercermin dalam lakon-lakon wayang yang dipentaskan.

Sebelum wayang dimainkan, gunungan atau kayonan ini ditaruh di tengah-tengah layar atau kelir.  Alat ini dimiringkan sedikit ke kanan, menandakan bahwa pertunjukan boneka belum dimulai, seperti dunia yang belum diceritakan. Gunung ditarik keluar dan disejajarkan di sisi kanan segera setelah pertunjukan dimulai.  Gunungan atau kayonan ini selanjutnya dapat difungsikan untuk menandai pergantian adegan atau babak cerita suatu lakon dengan menunjuk ke arah kiri.

Selain itu, gunung juga digunakan untuk melambangkan kehadiran api atau angin dengan penampakan kemerahan pada sisi belakang perangkat yang menghadap layar. Gunung juga dipakai untuk melambangkan latar belakang hutan, daratan, jalan dan sebagainya yang mengikuti dialog dari sang dalang .

Dalam pewayangan Jawa

Dalam fungsi standar, yaitu sebagai pembuka dan penutup suatu pertunjukan, dua hal digambarkan pada dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, ada gambar gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang bersenjatakan pedang dan perisai .  Bagian ini melambangkan pintu gerbang keraton, dan bila gunungan dimainkan maka digunakan sebagai keraton . Di puncak gunung terdapat pohon kehidupan ( kalpataru ) yang melilit ular naga . Beberapa binatang hutan digambarkan di cabang-cabang pohon, seperti harimau , banteng , monyet , dan burung . Gambaran keseluruhannya menggambarkan situasi di alam liar.  Sisi ini melambangkan keadaan dunia dan isinya. Di sisi lain, digambarkan api yang menyala. Ini melambangkan kekacauan dan neraka.

Terdapat dua jenis gunung yaitu Gunungan Gapuran dan Gunungan Blumbangan . Gunungan Blumbangan digubah oleh Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak . Kemudian pada masa Kartasura digubah lagi dengan adanya Gunungan Gapuran. 

Sumber:

https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Gunungan


Yaksa ꦪꦑ꧀ꦱ (यक्ष) adalah makhluk gaib dalam mitologi Hindu, Jain, dan Buddha yang memiliki berbagai peran, mulai dari penjaga harta karun hingga raksasa jahat. 

Mereka sering dikaitkan dengan alam liar, pohon, hutan, dan kesuburan. Yaksa dapat digambarkan baik sebagai roh alam yang ramah atau sebagai makhluk yang nakal, berubah-ubah, atau bahkan jahat. 

Berikut adalah beberapa poin penting tentang Yaksa:

Peran:

Yaksa memiliki berbagai peran, termasuk penjaga harta karun, penjaga kuil Buddha, dan makhluk yang muncul dalam berbagai cerita. 

Karakter:

Mereka dapat digambarkan sebagai makhluk yang baik hati, nakal, berubah-ubah, rakus, atau bahkan pembunuh. 

Asal-usul:

Dalam beberapa cerita Buddha, Yaksa adalah raksasa buruk rupa yang terlahir kembali karena dosa-dosa yang mereka lakukan selama kehidupan lampau. 

Representasi:

Dalam seni kuil Thailand, Yaksa sering digambarkan sebagai penjaga pintu kuil dengan mata besar, gigi taring, dan wajah hijau. 

Yaksaprasna:

Episode dalam Mahabharata yang menceritakan dialog antara Yudistira dan seorang Yaksa, yang merupakan penjelmaan dari Batara Darma. 

Yaksini:

Perempuan Yaksa disebut Yaksini atau Yakshi. 

Variasi:

Ada berbagai jenis Yaksa, mulai dari roh alam yang ramah hingga siluman jahat yang menyerupai raksasa. 

Sebagai contoh, dalam kisah Yaksaprasna, Wikipedia, Yaksa mengajukan berbagai pertanyaan kepada Yudistira untuk menguji kebijaksanaan dan keadilan Yudistira. Dalam cerita rakyat Thai, Yaksa digambarkan sebagai makhluk yang seringkali digambarkan sebagai penjaga pintu kuil Buddha.


Yaksa ꦪꦑ꧀ꦱ (यक्ष)

Dalam cerita wayang, yaksa adalah sosok makhluk gaib yang sering digambarkan sebagai musuh atau antagonis bagi para tokoh utama. Yaksa memiliki berbagai peran dan karakteristik, mulai dari makhluk yang jahat dan kejam hingga makhluk yang bijaksana dan penuh kebijaksanaan. 

Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang yaksa dalam cerita wayang:

Peran:

Musuh: Yaksa sering kali digambarkan sebagai musuh utama bagi para tokoh utama, terutama para ksatria seperti Arjuna, Abimanyu, dan tokoh-tokoh Pandawa lainnya. 

Antagonis: Yaksa juga dapat berperan sebagai antagonis dalam cerita, membawa gangguan dan kesulitan bagi para tokoh utama. 

Penguji: Dalam beberapa cerita, yaksa dapat menjadi penguji bagi para tokoh, seperti dalam kisah Yaksaprasna di mana Yudistira diuji oleh seorang yaksa. 

Simbol: Yaksa juga dapat menjadi simbol bagi hal-hal negatif seperti nafsu, kerakusan, dan ketidakadilan dalam masyarakat. 

Karakteristik:

Raksasa: Yaksa sering digambarkan memiliki bentuk fisik yang raksasa, seperti bertubuh besar dan berwajah bengis. 

Serang: Yaksa juga dikenal dengan kekuatan dan serangan yang dahsyat, sering kali menggunakan kekuatan supranatural seperti sihir atau mantra. 

Bijaksana: Namun, ada juga yaksa yang digambarkan sebagai makhluk bijaksana dan penuh kebijaksanaan, seperti yaksa yang mengajukan pertanyaan kepada Yudistira dalam kisah Yaksaprasna. 

Contoh Yaksa:

Cakil: Tokoh wayang raksasa yang lincah dan sering berlawanan dengan para ksatria. 

Naga Yaksa: Dalam beberapa cerita, yaksa juga dapat memiliki bentuk Naga atau ular raksasa. 

Hariti: Yaksa yang kemudian menjadi dewi kesuburan setelah bertobat. 

Makna Simbolik:

Nafsu: Yaksa sering diasosiasikan dengan nafsu manusia yang perlu dikendalikan. 

Kerakusan: Cakil, misalnya, dapat diartikan sebagai simbol kerakusan dan ketidakadilan. 

Kebaikan: Yaksa yang bijaksana, seperti dalam kisah Yaksaprasna, dapat menjadi simbol kebaikan dan kebijaksanaan. 

Dengan demikian, yaksa dalam cerita wayang memiliki peran yang beragam dan kompleks, mulai dari musuh hingga penguji, dan dapat menjadi simbol bagi berbagai aspek kehidupan manusia, baik yang positif maupun yang negatif.

Dewi Hariti yaitu istri dari dewa Kuwera. Konon dikisahkan bahwa Dewi Hariti pada mulanya adalah seorang yaksa yang gemar memakan daging anak-anak. Namun setelah mendapat pencerahan ajaran Agama Buddha, Sang Yaksa kemudian bertobat dan berbalik menjadi pelindung dan penyayang anak-anak. 

Hariti sedang memangku seorang bayi. abad ke-2-3 Peshawar, (Gandhara), Pakistan. Museum Britania.

Terdapat sejumlah arca Dewi Hariti di beberapa candi Buddha seperti Candi Mendut. Keberadaan arca Dewi Hariti ditujukan sebagai pengusir pengaruh jahat yang mungkin menimpa anak-anak.


Hārītī ( Sanskerta ), juga dikenal sebagai Hanzi :鬼子母(神) ; Pinyin : Guǐzǐmǔ(shén) , Jepang :鬼子母神, Romanisasi :  Kishimojin , Korea 귀자모신, 鬼子母神 ( RR : Gwijamoshin ) adalah seorang rākṣasī atau yakṣinī (roh alam) perempuan dalam agama Buddha. Ia muncul sebagai karakter dalam semua tradisi Buddha dan ia dipuja sebagai Pelindung Dharma yang ganas dan dewi kesuburan dalam agama Buddha Mahayana . Hārītī muncul dalam berbagai sutra Mahayana , termasuk dalam Sutra Teratai , di mana ia bersumpah untuk melindungi mereka yang menjunjung tinggi sutra tersebut. Ia juga disebutkan sebagai pelindung dalam Candragarbhasūtra.

Dalam mitologi agama Buddha diceritakan bahwa pada mulanya Hariti adalah raksasa perempuan bernama Abhirati dari kerajaan Satyagiri yang sukanya melahap daging anak kecil. Hal ini membuat ketakutan rakyat, oleh sang Budha, Hariti diberi wejangan tentang agama Buddha. Ketika sadar, ia ditabiskan menjadi Dewi Pelindung Anak atau Dewi Kesuburan. Biasanya Arca Hariti digambarkan berdada besar dan dikelilingi oleh anak kecil.


Hariti adalah dewi dalam agama Buddha dan Hindu yang dikenal sebagai dewi pelindung anak-anak, kesuburan, dan perlindungan. Ia juga dikenal sebagai yakshini atau roh alam yang dulunya seorang raksasa perempuan. Setelah diberi wejangan Buddha, Hariti menjadi dewi yang dihormati, terutama di India dan Asia Timur. 

Berikut beberapa poin penting tentang Hariti:

Asal-Usul:

Hariti awalnya adalah raksasa perempuan (yakshini) yang bernama Abhirati, dikenal suka memakan anak-anak. 

Perubahan:

Buddha kemudian mengajari Hariti tentang dharma, dan Hariti menjadi sadar atas perbuatannya. Ia bersumpah untuk melindungi anak-anak dan bersedia hidup dengan memakan buah delima. 

Peran dalam Buddha dan Hindu:

Hariti dihormati sebagai dewi kesuburan, perlindungan anak, dan persalinan yang mudah. Ia juga dikenal menakut-nakuti orang tua yang tidak bertanggung jawab. 

Penyebaran:

Pemujaan Hariti menyebar dari Gandhara ke India, kemudian ke Cina dan Jepang. 

Karakteristik:

Hariti sering digambarkan dengan anak-anak di lengannya, atau dikelilingi oleh anak-anak. 

Hariti adalah figur yang kompleks, dengan peran yang bervariasi, mulai dari iblis hingga dewi yang dihormati, yang menunjukkan transformasi dan penerimaan dalam agama Buddha dan Hindu.












GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 2 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀


GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 2

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀

Tentang Kayon dan Membangun Optimisme SDGs Dunia di KTT G20

SIARAN PERS NO.35/SP/TKMG20/11/2022

TIM KOMUNIKASI DAN MEDIA G20

Masyarakat Bali berharap segala hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, mampu memberikan jalan kesejahteraan dan harmonisasi untuk manusia serta alam semesta. Harapan itu seirama dengan logo Gunungan atau Kayon G20.

Gunungan merupakan simbol kehidupan serta kelestarian alam semesata. Sebagaimana gunungan itu pengharapan bagi manusia dunia untuk kehidupan berlanjutannya.

“Harapan yang disimbolkan dengan logo gunungan ini bagian dari upaya mendukung pencapaian sustainable development goals (SDGs),” kata Guru besar dan dosen sastra budaya Universitas Udayana Prof Dr I Nyoman Darma Putra, M.Litt di Denpasar, Selasa (8/11/2022).

Demikian pula slogan “Recover Together, Recover Stronger” (pulih bersama, bangkit lebih kuat), kata Darma, menjadikan optimisme masa depan cerah bagi seluruh bangsa demi pencapaian pembangunan berkelanjutan (SDGs). ”Tentu di dalamnya ada Bali dan Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan hasil-hasil dari konferensi ini bisa mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Sejumlah hal terkait SDGs adalah isu pembangunan sosial dan ekonomi, termasuk mengenai kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, perubahan iklim, air, sanitasi, energi, lingkungan dan keadilan sosial.

Bagi masyarakat Bali, gunung dalam simbol gunungan dapat merujuk kepada arti Wana Kerthi. Yaitu, upaya untuk menjaga kesucian dan kelestarian hutan dan pegunungan. Wana Kerthi diartikan sebagai gunung-laut atau nyegara gunung.

“Itu simbol kolaborasi yang menentukan kesuburan alam sebagai sumber kehidupan mahkluk hidup di bumi ini,” ujar Darma.

Gunungan juga dianggap sebagai sumber inspirasi yang berorientasi pada kesejahteraan dan kebahagian alam semesta. Menurut Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Prof Dr I Wayan Adnyana SSn, MSn, KTT G20 memberikan harapan besar seluruh bumi beserta isinya. Selain itu, lanjutya, sekaligus menjadi momentum sejarah yang besar demi keberlanjutan nasib dunia kedepannya.

“Gunungan atau kayon juga menunjuk wujud gunung. Gunung merupakan sumber energi vulkanik, yang mampu menyuburkan alam dengan maha dahsyat.“

Gunungan dalam logo Presidensi G20 Indonesia mewakili semangat dan optimisme masyarakat Indonesia, khususnya untuk pulih dari pandemi dan segera memasuki babak baru kehidupan.

Filosofi Gunungan menggambarkan simbol kehidupan di alam semesta, khususnya perpindahan waktu menuju babak baru. Bentuk gunungan yang seperti segitiga adalah simbol dari purwa, madya, dan wasana, yakni siklus kehidupan dari awal sampai akhir.

Gunungan juga merupakan lambang pergantian lakon atau cerita tentang bagaimana manusia berjuang dan berusaha untuk mengubah jalan hidupnya. Bentuk Gunungan yang mengerucut ke atas bermakna bahwa segala daya dan upaya manusia diserahkan kepada Yang Maha Kuasa.

Bali menyebut gunungan dalam pewayangan adalah kayon. Kayon ini merupakan simbolik alam semesata dengan segala isinya yang juga berkonotasi dengan gunung melambangkan kelestarian alam, budaya hingga ekonomi.

Kayon mewakili lambang alam di pewayangan. Bagi kepercayaan Hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang gambaran proses bercampurnya benda- benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta sebagai unsur elemen atau zat dasar dari alam beserta isinya.

Panca Mahabuta yaitu akasa, bayu, teja, apah, dan perthiwi. Sumber dari Warta Hindu Dharma NO. 527 Nopember 2010, laman resmi PHDI Bali yang ditulis I Made Sumarya, menjelaskan alam semesta ini disusun dari lima anasir dasar Panca Mahabhuta. Akan tetapi yang paling dominan adalah perthiwi sehingga batu itu padat. Air juga demikian yang paling dominan anasir dasar Panca Mahabhuta. 

Matahari adalah Teja, Udara adalah Akasa, Bayu dan sebagainya. “Kandungan Akasa yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk ruang, menyebar. Kandungan bayu yang dominan menyebabkankeberadaan sesuatu dalam bentuk gerak atau benda bergerak, kandungan apah yang dominan menyebabkan keberadaan sesuatu dalam bentuk benda padat,” tulis I Made Sumarya.

Kandungan yang dominan itu bisa lebih dari satu anasir Mahabhuta dalam suatu benda atau isi alam, misalnya kandungan apah dan prethiwi yang dominan menyebabkan keberadaan dalam bentuk padat cair (kental). Demikian keberadaan beraneka ragam isi alam ini ditentukan oleh kandungan yang berbeda-beda dari anasir Panca Mahabhuta.

Panca Mahabhuta sebagai anasir dasar penyusun alam semesta atau Buana azas Agung diciptakan oleh causa prima (Tuhan Yang Maha Esa) melalui proses penciptaan. Penciptaan ini merupakan pertemuan antara dua azas yaitu azas kesadaran serta maya yang bertingkat dari atas ke bawah yang berperan mentukan keberadaan alam semesta beserta isinya.

Tentang #G20Updates:

Berbagai produk komunikasi yang disiapkan oleh Tim Komunikasi dan Media G20. Bertujuan untuk menyediakan informasi yang komprehensif mengenai persiapan dan isu-isu yang berkaitan dengan KTT G20 yang diadakan di Bali, Indonesia pada 15-16 November 2022.

***

Narahubung:

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo – Usman Kansong (0816785320).

Dapatkan informasi lainnya di https://infopublik.id/kategori/g20


Sumber:

https://maritim.go.id/detail/tentang-kayon-dan-membangun-optimisme-sdgs-dunia-di-ktt-g20#:~:text=Kayon%20ini%20merupakan%20simbolik%20alam,mewakili%20lambang%20alam%20di%20pewayangan

Filosofi Gunungan dalam Logo Presidensi G20 Indonesia


Pembukaan G20 Bidang Pendidikan dan Kebudayaan atau ‘Kick Off G20 on Education and Culture’ diresmikan dengan dicabutnya simbolis Gunungan yang posisinya berada di tengah, kemudian menancapkannya kembali pada sisi sebelah kanan. 

Makna Gunungan dalam Logo G20 Indonesia
Prosesi mencabut dan menancapkan kembali Gunungan di posisi yang berbeda itu memiliki makna khusus. Mencabut atau menarik Gunungan mempunyai makna penjelmaan zat pertama manusia yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. 

Alasan mengapa Gunungan tidak lagi berada di tengah adalah Gunungan menjadi simbol harapan dimulainya sebuah kehidupan atau babak baru seorang manusia.  Gunungan dalam logo Presidensi G20 Indonesia merepresentasi semangat dan optimisme masyarakat Indonesia, khususnya untuk pulih dari pandemi dan segera memasuki babak baru kehidupan. 

Filosofi Gunungan menggambarkan simbol kehidupan di alam semesta, khususnya perpindahan waktu menuju babak baru. Bentuk gunungan yang seperti segitiga adalah simbol dari purwa, madya, dan wasana, yakni siklus kehidupan dari awal sampai akhir.  

Gunungan juga merupakan lambang pergantian lakon atau cerita tentang bagaimana manusia berjuang dan berusaha untuk mengubah jalan hidupnya. Bentuk Gunungan yang mengerucut ke atas bermakna bahwa segala daya dan upaya manusia diserahkan kepada Yang Maha Kuasa. 


Informasi selengkapnya bisa SohIB pelajari unduh di tautan linktr.ee/G20pedia


Sumber:

https://www.indonesiabaik.id/infografis/filosofi-gunungan-dalam-logo-presidensi-g20-indonesia




https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7b/G20_Indonesia_2022_logo.svg/1229px-G20_Indonesia_2022_logo.svg.png




GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT 2 ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀


GUNUNGAN - KAYON - WAYANG KULIT  2

ꦒꦸꦤꦸꦁꦔꦤ꧀ - ꦏꦪꦺꦴꦤ꧀ - ꦮꦪꦁꦏꦸꦭꦶꦠ꧀


Fungsi dan Makna Wayang Gunungan

Dalam setiap pertunjukan baik itu wayang kulit ataupun wayang golek selalu diawali dan diakhiri dengan munculnya wayang jenis gunungan. Penggunaan media gunungan yang dilakukan oleh Ki Dalang bukan tanpa maksud. Di dalamnya terkandung makna yang sangat mendalam bila dikaji dari sudut fungsi maupun pemaknaannya.

Dalam wayang gunungan ditengarai ada beberapa fungsi yang dapat menjadi parameter dalam penyajiannya. Diantaranya gunungan dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan cerita atau lakon wayang, seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas teater. 

Fungsi lainnya gunungan dapat sebagai indikator pergantian adegan maupun sebagai visualisasi fenomena alam seperti angin, samudra, gunung, juga halilintar. Ada lagi fungsi yang tak kalah menariknya gunungan dapat membantu menciptakan efek tertentu seperti tokoh yang menghilang atau berubah bentuk (Muhajirin, 2010).

Makna Gunungan

Gunungan adalah wayang berbentuk gambar gunung beserta isinya. Di bawahnya terdapat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan perisai di depan gerbang istana. Di sebelah atas gunung terdapat pohon kayu yang dibelit oleh seekor ular naga. Dalam gunungan tersebut terdapat juga gambar berbagai binatang hutan. Gambar secara keseluruhan menggambarkan keadaan di dalam hutan belantara.

Gunungan melambangkan keadaan dunia beserta isinya. Sebelum wayang dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar, condong sedikit ke kanan yang berarti bahwa lakon wayang belum dimulai, bagaikan dunia yang belum beriwayat. Setelah dimainkan, gunungan dicabut, dijajarkan di sebelah kanan.

Gunungan dipakai juga sebagai tanda akan bergantinya lakon/tahapan cerita. Untuk itu gunungan ditancapkan di tengah-tengah condong ke kiri. Selain itu, gunungan digunakan juga untuk melambangkan api atau angin. Apabila gunungan dibalik, terdapat visualisasi gambar cat berwarna merah.  Warna inilah yang melambangkan api.

Gunungan juga dipergunakan untuk melambangkan hutan rimba, dan dimainkan pada waktu adegan rampogan atau pada saat pasukan siap berbaris dengan bermacam senjata untuk maju berperang. Dalam hal ini gunungan bisa berperan multi fungsi baik sebagai tanah, hutan rimba, jalanan dan sebagainya. Sang Dalang berperan sebagai komunikator jalannya cerita. Setelah lakon selesai, gunungan ditancapkan lagi di tengah-tengah layar, melambangkan bahwa cerita sudah paripurna.

Dilihat dari klasifikasinya ada dua macam gunungan, yaitu gunungan blumbangan dan gunungan gapuran. Gunungan blumbangan atau gunungan perempuan ada sejak zaman Kerajaan Demak. Kemudian pada zaman Mataram diubah dengan adanya gunungan gapuran atau gunungan laki-laki. Gunungan sering juga dikenal dengan nama kayon. Kayon berasal dari kata kayun (bahasa Kawi). Gunungan mengandung ajaran filsafat yang tinggi, yaitu ajaran mengenai kebijaksanaan dan juga tuntunan moral. 

Simbol Kehidupan

Pada dasarnya gunungan merupakan simbol kehidupan manusia. Setiap gambar dalam ornamen di dalamnya melambangkan seluruh alam raya beserta isinya mulai dari tingkatan kehidupan manusia dengan segala karakternya, hewan, hutan, serta lingkungan sekitar yang melingkupi. Bentuk gunungan yang meruncing ke atas melambangkan bahwa hidup manusia ini tujuan akhirnya akan menuju ke atas secara vertikal yaitu berserah kepada Tuhan.

Sedangkan rangkaian gambar dalam gunungan mempunyai makna yang melambangkan kehidupan manusia. Di antaranya adalah gambar pohon yang melambangkan kehidupan manusia di dunia ini, bahwa Tuhan telah memberikan perlindungan kepada umatnya. Beberapa jenis hewan yang berada di dalamnya melambangkan sifat, tingkah laku, dan watak yang dimiliki setiap orang.  

Gambar samudra melambangkan pikiran manusia dan juga keinginan belajar yang tidak mengenal batasan usia sepertu luasnya samudra yang tiada bertepi. Ornamen gambar berbentuk rumah pendapa melambangkan suatu tempat tinggal atau negara yang di dalamnya terdapat kehidupan yang aman, tenteram, dan bahagia. 

Detail gambar dua raksasa penjaga pintu gerbang dapat diinterpretasikan melambangkan penjaga alam gelap maupun terang. Di dunia ini mesti ada sifat jahat atau buruk. Ornamen visualisasi pintu gerbang dengan jenjang bertingkat, melambangkan pintu masuk dari alam fana ke alam baka. 

Sedangkan jenjang bertingkat merupakan lambang jalan penuntun agar manusia menaati tuntunan agama. Pada bagian atas wayang gunungan terdapat gambar mustika sebagai lambang puncak tujuan kehidupan manusia. 

Dengan demikian dapat dimaknai bahwa dalam wayang gunungan terdapat simbol tuntunan moral kepada manusia selama hidup di dunia. Di tengah euforia budaya digital saat ini, ternyata para pujangga di Nusantara pada masa lampau sudah mampu menciptakan pemaknaan ajaran kehidupan yang sampai saat ini masih tetap relevan untuk diimplementasikan pada semua lini kehidupan manusia. 

(Oleh: Ch. Dwi Anugrah, Ketua Sanggar Seni Ganggadata Jogonegoro, Mertoyudan, Kabupaten Magelang)

https://www.beritamagelang.id/kolom/fungsi-dan-makna-wayang-gunungan#:~:text=Gunungan%20sering%20juga%20dikenal%20dengan,kebijaksanaan%20dan%20juga%20tuntunan%20moral.&text=Pada%20dasarnya%20gunungan%20merupakan%20simbol%20kehidupan%20manusia



Gunungan : Nilai-nilai Filsafat Jawa

Pengarang : Agus Purwoko

Lokasi : DPK KABUPATEN SLEMAN

Tahun : 2013


Deskripsi Buku

Gunungan wayang kulit purwa atau Kayon adalah simbol hidup, gambaran hidup alam semesta beserta isinya. 

Menjadi simbol hidup karena dalam pertunjukan wayang kulit apabila kayon belum digerakan oleh sang dalang maka berarti belum ada kehidupan, masih kosong, sepi, tak ada gerak, tidak ada dinamika.  

"Bedol kayon"  atau saat pertama kali gunungan dicabut  dari panggung pakeliran kemudian digerakan oleh dalang menjadi tanda awal mula kehidupan wayang, semua tokoh wayang akan hidup sesuai peran masing masing.